Emerging Market Kuat, IHSG Ditutup di Level Tertinggi

Indeks Harga Saham Gabungan berhasil melanjutkan penguatannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (11/6/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  17:15 WIB
Emerging Market Kuat, IHSG Ditutup di Level Tertinggi
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan berhasil melanjutkan penguatannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (11/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup naik 0,26 persen atau 16,38 poin di level 6.305,99 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Senin (10/6/2019), IHSG berakhir di posisi 6.289,61 dengan kenaikan 1,30 persen atau 80,49 poin.

Sebelum melanjutkan penguatannya, indeks sempat tergelincir ke zona merah ketika dibuka turun tipis 0,04 persen atau 2,81 poin di level 6.286,80 pagi tadi.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.255,26 – 6.310. Level penutupan yang dibukukan IHSG hari ini adalah yang tertinggi sejak 3 Mei.

Sebanyak lima dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin tambang (+0,64 persen) dan infrastruktur (+0,55 persen). Empat sektor lainnya menetap di zona merah, dipimpin sektor aneka industri yang turun 0,54 persen.

Dari 633 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 217 saham menguat, 185 saham melemah, dan 231 saham stagnan.

Saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang masing-masing naik 12,41 persen dan 5,71 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG hari ini.

Indeks saham lainnya di Asia rata-rata juga ditutup positif, di antaranya indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang yang masing-masing menguat 0,54 persen dan 0,33 persen, dan indeks Kospi Korea Selatan yang berakhir menguat 0,59 persen.

Di China, dua indeks saham acuannya Shanghai Composite dan CSI 300, bahkan melonjak 2,58 persen dan 3,01 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 0,76 persen.

Secara keseluruhan, bursa Asia mampu menguat bersama dengan bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS) di tengah penantian pasar atas perkembangan seputar isu perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

Indeks MSCI Emerging Market menguat 0,6 persen menuju level tertinggi dalam lebih dari sebulan, didorong lonjakan bursa saham China akibat pemberitaan bahwa pemerintah Negeri Tirai Bambu akan memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan pengeluaran dalam infrastruktur.

Kabar tersebut membantu mengimbangi ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif lebih lanjut jika Presiden China Xi Jinping tidak bertemu dengannya di KTT G20, Osaka, pada 28-29 Juni.

Kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan akan mengenakan tarif yang lebih tinggi yakni 25 persen terhadap sisa impor China senilai US$300 miliar. 

“Pasar akan sedikit volatil menjelang G20 tepat ketika Anda mendengar segala isu seputar bagaimana negosiasi perdagangan kemungkinan akan terungkap,” ujar Caleb Silsby, kepala manajer portofolio di Whittier Trust kepada Bloomberg TV.

“Kemungkinan pasar telah memperhitungkan ‘resolusi yang cukup baik’ mengenai perdagangan sehingga disrupsi apapun akan menyebabkan peningkatan volatilitas lagi,” tambah Silsby.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 lanjut berakhir naik 0,23 persen atau 1,28 poin di level 557,15 hari ini, setelah ditutup menguat 1,82 persen atau 9,94 poin di posisi 555,86 pada Senin (10/6).

Nilai tukar rupiah pun ditutup menguat 11 poin atau 0,08 persen ke level Rp14.239 per dolar AS pada Selasa (11/6), penguatan hari ketiga berturut-turut, di tengah membaiknya daya tarik aset berisiko.

“Minat terhadap aset berisiko meningkat di pasar secara keseluruhan, mengangkat harga saham dan mata uang emerging market di Asia pada umumnya,” ujar Mingze Wu, seorang pedagang valuta asing di INTL FCStone, Singapura.

Di sisi lain, meningkatnya spekulasi untuk pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS Federal Reserve turut membantu mendorong saham dan dolar AS lebih tinggi, sehingga membatasi kenaikan dalam mata uang emerging market di Asia, termasuk rupiah.

Menurut Bahana Sekuritas, Bank Indonesia (BI) terlihat akan bergabung dalam siklus pelonggaran global dengan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan yang akan digelar pada 19-20 Juni.

Sejumlah faktor yang disebut mendukung langkah tersebut di antaranya adalah peningkatan peringkat utang oleh S&P Global Ratings, tanda-tanda pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed AS, penurunan harga minyak, dan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral lain di Asia.

"Kami ragu faktor-faktor ini akan terjadi bersamaan pada saat yang sama lagi tahun ini. Dengan demikian, bulan ini menjadi kesempatan sempurna bagi BI untuk memangkas BI rate dari level saat ini 6 persen,” terang Bahana dalam risetnya yang diterbitkan Senin (10/6), seperti dikutip dari Bloomberg.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

FREN

+12,41

TPIA

+5,71

ICBP

+3,57

BBCA

+0,51

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BRPT

-4,23

UNVR

-0,78

ASII

-0,65

TLKM

-0,50

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top