Trump Tangguhkan Tarif, Nilai Tukar Peso Meksiko Menguat

Nilai tukar peso Meksiko menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan di Asia hari ini, Senin (10/6/2019), setelah pemerintah AS dan Meksiko mencapai kesepakatan soal imigran demi mencegah perang tarif.
Renat Sofie Andriani | 10 Juni 2019 09:40 WIB
Mata uang Meksiko - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar peso Meksiko menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan di Asia hari ini, Senin (10/6/2019), setelah pemerintah AS dan Meksiko mencapai kesepakatan soal imigran demi mencegah perang tarif.

Selama satu tahun terakhir, perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan mitra-mitra dagangnya, termasuk konflik jangka panjang dengan China, telah memperlambat pertumbuhan global serta menyulut ketidakpastian pada pasar keuangan.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menerapkan tarif impor sebesar 5 persen atas seluruh produk dari Meksiko jika negara ini tidak berkomitmen untuk berbuat lebih banyak memperketat perbatasannya.

Namun pada Jumat (7/6/2019) Meksiko sepakat untuk mengambil langkah tegas menahan gelombang imigran dari Amerika Tengah yang ingin menyeberang ke AS.

Meksiko juga setuju untuk meningkatkan penjagaan di perbatasan bagian selatan negaranya guna menghalau imigran ilegal, termasuk dengan menerjunkan Garda Nasional.

Trump pun menangguhkan rencana pengenaan tarifnya menyusul tercapainya kesepakatan itu. Adapun nilai tukar peso menguat sekitar 2 persen terhadap dolar AS dan terakhir bertengger di level 19,30 peso per dolar AS, berdasarkan data Reuters.

"Kita semua tahu bahwa Donald Trump tidak dapat diprediksi, tetapi ini membawanya ke tingkat yang sama sekali baru," tutur Chris Weston, kepala riset di broker valuta asing Pepperstone.

Seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik, dolar AS mampu terapresiasi terhadap yen Jepang dan sejumlah mata uang utama lain.

Meski demikian, kenaikan dolar AS dihantui oleh meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuannya selama paruh kedua tahun ini.

Pandangan itu didorong setelah rilis data pada Jumat (7/6/2019) menunjukkan jumlah pekerjaan hanya bertambah sebesar 75.000 pada Mei, jauh lebih kecil dari peningkatan sebanyak 185.000 yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Fakta terbaru itu menunjukkan hilangnya momentum dalam kegiatan ekonomi yang menjalar ke pasar tenaga kerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, meksiko, tarif impor

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top