Mampukah Saham JPFA Tembus Rp1.800?

Secara umum, capaian laba emiten unggas pada 3 bulan pertama tahun ini terkontraksi karena penurunan harga ayam broiler. Tercatat, JPFA membukukan penjualan senilai Rp8,56 triliun, naik 8,9 persen dari posisi Rp7,86 triliun pada kuartal I/2018.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  08:52 WIB
Mampukah Saham JPFA Tembus Rp1.800?
Kantor Japfa Comfeed - Ilustrasi/shareinv.com

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah analis merevisi target harga saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. seiring dengan lemahnya pertumbuhan kinerja perseroan sepanjang kuartal I/2019.

Namun demikian, diharapkan emiten bersandi saham JPFA itu dapat memanfaatkan momentum bulan puasa untuk menggenjot performa.

Secara umum, capaian laba emiten unggas pada 3 bulan pertama tahun ini terkontraksi karena penurunan harga ayam broiler. Tercatat, JPFA membukukan penjualan senilai Rp8,56 triliun, naik 8,9 persen dari posisi Rp7,86 triliun pada kuartal I/2018.

Namun, peningkatan penjualan hanya terjadi pada pakan ternak dan ayam umur sehari masing-masing naik 26,18 persen dan 25,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), masing-masing menjadi Rp3,47 triliun dan Rp806,81 miliar.

Sementara itu, segmen peternakan dan produk konsumen turun 9,4 persen menjadi Rp3,18 triliun pada kuartal I/2019, dari Rp3,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin memperkirakan, harga ayam broiler bisa pulih pada kuartal II/2019 seiring dengan masuknya bulan Ramadan. Biasanya, permintaan ayam meningkat pada bulan puasa dan harga pun bakal terkerek.

“Untuk 2019, kami memperkirakan pertumbuhan yang terbatas secara tahunan untuk harga DOC [day-old-chicken] dan harga ayam hidup karena masih ada pasokan dan normalisasi sejak 2018,” tulis Mimi dalam riset yang dipublikasikan lewat Bloomberg, seperti dikutip Selasa (21/5).

Mimi juga merevisi turun perkiraan penjualan untuk peternakan komersial seiring dengan revisi turun asumsi harga ayam broiler tersebut. Begitu pula perkiraan laba JPFA diperkirakan Mimi turun menjadi 28,2 persen dan 25,9 persen pada 2019 dan 2020.

Kendati rekomendasi untuk JPFA dipertahankan buy, Mirae Asset Sekuritas mengurangi target harga menjadi Rp1.800. Adapun, valuasi JPFA dinilai masih menarik, di mana target harga itu mencerminkan price earning (P/E) pada 2019 sebesar 12,3 kali.

Adapun, Analis Kresna Sekuritas Timothy Gravianov juga sepakat pada kuartal kedua tahun ini, JPFA bisa kembali bangkit ditopang oleh momentum tahunan bulan puasa dan lebaran.

“Khususnya pada kuartal II/2019 karena ada Hari Raya Idul Fitri dan bulan puasa, JPFA akan bangkit kembali walaupun tak sekuat tahun sebelumnya,” tulis Timothy dalam risetnya.

Timothy menggarisbawahi ada beberapa risiko investasi JPFA. Pertama, kelebihan pasokan atau permintaan ayam broiler yang lebih rendah dari perkiraan dapat terjadi lagi pada kuartal II/2019. Kedua, regulasi dari Pemerintah tampaknya akan menguntungkan peternak independen dan menekan integrator. Ketiga, kekurangan pangsa pasar karena mengetatnya kompetisi.

Kresna Sekuritas pun menurunkan rekomendasi JPFA menjadi hold dengan target harga Rp1.700.

Di lantai bursa, saham JPFA diperdagangkan menguat 0,74 persen menjadi Rp1.360 pada penutupan perdagangan Selasa (21/5) dengan kapitalisasi pasar Rp15,95 triliun. Secara year to date, saham JPFA sudah tergerus 36,74 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jpfa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top