Anti Panik Rebalancing Saham Saat Perang Israel-AS vs Iran, Cermati ICBP hingga ELSA

Investor disarankan menerapkan strategi defensif dan diversifikasi portofolio saat ketegangan geopolitik meningkat, fokus pada instrumen rendah risiko dan sektor defensif.
Pegawai beraktivitas di dekat layar pergerakan harga saham di galeri BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026)./Bisnis/Himawan L. Nugraha
Pegawai beraktivitas di dekat layar pergerakan harga saham di galeri BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026)./Bisnis/Himawan L. Nugraha
Executive Brief
  • Investor disarankan untuk menerapkan strategi defensif dan melakukan rebalancing portofolio ke instrumen rendah risiko seperti RDPU, SBN, SRBI, atau emas di tengah ketegangan geopolitik.
  • Rekomendasi saham defensif termasuk sektor konsumer dan komoditas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang diuntungkan oleh ketegangan geopolitik.
  • Investor diingatkan untuk tetap rasional dan memantau volatilitas pasar, dengan fokus pada instrumen berfundamental kuat dan tidak bereaksi berlebihan terhadap informasi jangka pendek.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA – Investor disarankan untuk berpikiran jernih saat ketegangan geopolitik antara AS dan Israel terhadap Iran yang memuncak yang memukul kinerja saham. Stabilisasi portofolio pun menjadi penting di tengah kondisi yang tidak menentu.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai di tengah kondisi ini penting bagi investor untuk menerapkan strategi defensif. Adapun, kondisi IHSG pada perdagangan hari ini ditutup dengan terkoreksi 2,65%, menjadi salah satu koreksi terdalam setelah pengumuman MSCI Inc. membekukan rebalancing saham Indonesia pada akhir Januari lalu.

Wafi merekomendasikan para investor untuk melakukan rebalancing bobot portofolio tidak hanya pada instrumen saham, melainkan juga kepada instrumen rendah risiko, seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), SBN, SRBI, atau emas.

”Atau jika ingin tetap di saham, bisa realokasi ke sektor defensif seperti konsumer atau yang diuntungkan [oleh ketegangan ini] seperti migas dan emas,” katanya kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).

Beberapa saham yang masuk sebagai rekomendasi KISI antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA).

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, menerangkan bahwa penting bagi investor untuk tetap terbuka terhadap segala kesempatan yang ada di tengah kondisi volatil ini. Menurutnya, investor harus tetap rasional, dengan fokus pada instrumen yang defensif dan berfundamental kuat.

Selain itu, Abida menekankan pada pentingnya investor untuk memantau volatilitas pasar dan tidak bereaksi berlebihan terhadap informasi jangka pendek di pasar. Pasalnya, kondisi pasar yang fluktuatif disebut kerap kali membuka peluang akumulasi untuk investor jangka panjang.

”Meski tekanan dari MSCI dan konflik geopolitik menekan aliran modal asing, kami mencatat bahwa kebutuhan investor jangka panjang tetap pada fundamental pasar dan stabilitas ekonomi domestik, sehingga dana asing bisa kembali ketika sentimen global membaik,” katanya.

Abida merekomendasikan saham-saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) pada target harga Rp4.800, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) dengan target harga Rp2.500, saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Elnusa Tbk. (ELSA), atau saham-saham perkapalan seperti PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI), PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL), hingga PT Soechi Lines Tbk. (SOCI).

”Saham-saham ini dipandang menarik karena fundamental kuat dan katalis positif dari kenaikan harga komoditas serta aktivitas perdagangan. Namun, tetap perlu manajemen risiko mengingat volatilitas pasar masih tinggi,” tegas Abida, Senin (2/3/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 
Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro