Bisnis.com, JAKARTA —Surat utang korporasi sebanyak 23 seri dengan nilai total Rp13,15 triliun bakal jatuh tempo pada Oktober 2025.
Berdasarkan data Pefindo, surat utang jatuh tempo itu mencakup instrumen obligasi, sukuk, dan medium term notes (MTN).
Instrumen surat utang dengan nilai terbesar yang akan jatuh tempo pada bulan ini ialah Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2023 Seri B yang diterbitkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) senilai Rp4,15 triliun. Obligasi itu jatuh tempo pada 17 Oktober 2025.
Selain itu, Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2022 Seri B yang diterbitkan oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) senilai Rp1,6 triliun pada 11 Oktober 2025.
PT Astra Sedaya Finance juga memiliki Obligasi Berkelanjutan VI Tahap IV Tahun 2024 Seri A senilai Rp1,18 triliun yang akan jatuh tempo pada 12 Oktober 2025.
PT Indosat Tbk. (ISAT) juga memiliki dua seri surat utang yang akan jatuh tempo pada 26 Oktober 2025. Instrumen itu terdiri atas Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2022 Seri A Indosat senilai Rp875 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2022 Seri A Indosat senilai Rp375 miliar.
Sementara itu, MTN yang akan jatuh tempo bulan ini mencakup MTN Tahun 2022 PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan senilai Rp343 miliar dan MTN III Tahap II Tahun 2022 PT JACCS Mitra Pinasthika Mustika Finance Rp150 miliar.
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, menyampaikan total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2025 adalah 135 emisi dari 73 emiten senilai Rp155,39 triliun.
“Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 637 emisi dengan nilai outstanding sebesar Rp517,39 triliun dan US$117,27 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten,” tulisnya dalam keterangan resmi, Sabtu (4/10/2025).
Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp6.423,84 triliun dan US$352,10 juta. Selain itu, di BEI telah tercatat sebanyak 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan nilai Rp2,13 triliun.