Beda Arah Saham Rokok GGRM Cs dan IHSG Merespons Reshuffle Sri Mulyani

Saham rokok melonjak saat IHSG turun setelah reshuffle Sri Mulyani. Pasar berharap Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, lebih fleksibel dalam kebijakan cukai rokok.
Pedagang memegang bungkus rokok bercukai di Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pedagang memegang bungkus rokok bercukai di Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Executive Brief
  • Saham emiten rokok mengalami lonjakan signifikan saat IHSG turun, dipicu oleh reshuffle Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa.
  • Pasar berekspektasi Menteri Keuangan baru akan lebih fleksibel dalam kebijakan cukai rokok, berbeda dengan kebijakan kenaikan cukai yang diterapkan Sri Mulyani sebelumnya.
  • GGRM dan WIIM direkomendasikan beli oleh Mirae Asset Sekuritas, sementara pasar menunggu pernyataan resmi Purbaya terkait kebijakan fiskal mendatang.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten rokok kompak melejit pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (8/9/2025). Hal ini bertepatan dengan pengumuman reshuffle Menteri Keuangan Sri Mulyani yang digantikan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa.

Menariknya, lonjakan saham rokok ini terjadi saat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun 1,28% ke 7.766,84. Sebaliknya, saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) melejit 12,50% ke Rp9.900, saham PT H.M Sampoerna Tbk. (HMSP) meningkat 17,76% ke Rp630, saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) naik 16,35% ke Rp925, dan saham PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) naik 11,61% ke Rp250.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai kondisi tersebut mengindikasikan respons pasar yang berekspektasi Menteri Keuangan yang baru lebih longgar dalam menetapkan kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok.

Setidaknya dalam lima tahun terakhir, Kementerian Keuangan yang dipimpin Sri Mulyani telah menggenjot cukai rokok 67,5% sejak 2020. Tepatnya, rata-rata kenaikan cukai rokok pada 2020 sebesar 23%, kemudian naik lagi 12,5% pada 2021, selanjutnya pada 2022 cukai rokok meningkat lagi rata-rata sebesar 12%. Berikutnya, pada 2023 dan 2024 cukai rokok naik rata-rata 10%. Sedangkan di 2025, pemerintah tidak menaikkan cukai rokok.

"Dulu Sri Mulyani sangat pro terhadap kebijakan kenaikan cukai rokok. Saat ini market akan melihat Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan yang baru ini bisa menerapkan kebijakan cukai rokok yang fleksibel," kata Nafan, Senin (8/9/2025).

Adapun, GGRM dan WIIM menjadi saham yang direkomendasikan beli oleh Mirae Asset Sekuritas. Dengan harga saat ini, GGRM telah mencapai target price (TP) 1 di Rp9.550, sementara TP2 berada di Rp10.650. Sekuritas merekomendasikan beli dengan entry level di kisaran Rp9.100-Rp9.400.

Sementara untuk WIIM, harga saat ini telah menjangkau TP1 di Rp915, sedangkan TP2 di level Rp1.015 dan TP3 di Rp1.100. Sekuritas merekomendasikan add atau menambah kepemilikan dengan entry level di rentang Rp850-Rp880.

Sementara itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan saat ini pasar menantikan pernyataan resmi dari Purbaya, khususnya terkait kebijakan fiskal dan rencana anggaran mendatang untuk menegaskan keberlanjutan program pemerintah dan memastikan mampu meredam risiko fiskal ke depan.

"Maka kami berpandangan, emiten dengan fundamental solid menjadi pilihan bila reshuffle hanya menyebabkan koreksi teknis," ujar Oktavianus.

Adapun, sebelum Prabowo mengumumkan reshuffle Kabinet Merah-Putih sore ini, IHSG dalam penutupan sesi I perdagangan sebenarnya menguat 0,58% ke level 7.912,95. Bila merujuk grafik perdagangan, IHSG bahkan masih bertengger di 7.901,30 pada pukul 15.29 WIB.

Oktavianus berpendapat, tekanan IHSG hari ini disebabkan oleh sentimen ketidakpastian kebijakan ekonomi dan reputasi kredibilitas fiskal. Apalagi, pasar sebelumnya juga dihadapkan dengan tuntutan aksi demonstran yang meminta perubahan kebijakan pajak dan kebijakan fiskal.

Dengan demikian, reshuffle kabinet yang mencakup pergantian posisi Menteri Keuangan ini menurutnya juga menunjukkan potensi risiko yang lebih nyata sampai kebijakan baru jelas dan lebih kredibel. 

"Meski demikian, jika pemerintah cepat memberikan roadmap kebijakan baru yang menjaga disiplin fiskal, maka tekanan IHSG saat ini cenderung sesaat dan dapat pulih lebih cepat," tandasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 
Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro