Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir kembali menguat di angka 7.800-an setelah sempat anjlok cukup dalam pada Senin (1/9) akibat berbagai demonstrasi berujung kericuhan dan perusakan yang terjadi pekan lalu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat sebesar 1,08% atau 84,27 poin menuju posisi 7.885,86. Sepanjang hari ini, Rabu (3/9/2025), indeks komposit bergerak pada level 7.840,75 dan sempat menyentuh level tertingginya di 7.911,61.
Tercatat, sebanyak 400 saham meningkat, 275 saham turun, dan 126 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp14.282 triliun.
Ekonom dan praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan selain karena sentimen positif dampak perekonomian global yang membaik, pembalikan IHSG yang cepat mencerminkan kepercayaan investor masih sangat kuat terhadap kinerja emiten di bursa saham.
Selain itu, Hans juga menyoroti peran regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menghadapi gejolak di pasar modal.
OJK dan BEI telah mengambil langkah antisipasi, seperti mengubah aturan trading halt dan menyediakan mekanisme buyback tanpa RUPS untuk menenangkan pasar.
Baca Juga
Hans memuji langkah ini sebagai respons yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar modal.
“Fundamental ekonomi kita bagus. Langkah pengawasan dan pengaturan OJK sangat baik, dan kerja sama dengan Kementerian Perekonomian juga membantu menenangkan pelaku pasar,” ujarnya, dikutip Rabu (3/9/2025).
Termasuk peran Pemerintah dan aparat keamanan dalam meredam ketegangan. Setelah pidato Presiden dan langkah TNI meredam aksi, kondisi pasar mulai membaik.
“Begitu situasi mulai kondusif, pasar saham langsung membaik,” tambahnya.
Menurut Hans, secara umum ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik. Indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang kembali naik di atas angka 50 menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi.
Dari sisi global, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan di Amerika Serikat (AS), seperti intervensi Presiden AS Donald Trump terhadap The Fed dan keputusan pengadilan terkait tarif impor.
Indonesia sempat menjadi sorotan karena gejolak politik, terutama dibandingkan dengan negara Asean lain seperti Thailand. Namun, Hans menegaskan, investor asing masih melihat potensi besar di pasar saham Indonesia.
“Banyak investor percaya bahwa saham-saham emerging market memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Dampak demo diperkirakan hanya bersifat sementara,” katanya.
Untuk proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Hans memperkirakan pergerakan berada di kisaran 7.800 hingga 8.100.
Dia menilai, potensi penurunan sudah terbatas mengingat valuasi saham Indonesia yang relatif murah dan mulai membaiknya kondisi ekonomi.
Ke depan, Hans mengharapkan penyampaian aspirasi masyarakat dilakukan secara kondusif dan damai agar stabilitas perekonomian nasional tetap terjaga.