Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Pemodal Jumbo Serok Saham PTBA Kala Sentimen Akuisisi PLTU Menyengat
Lihat Foto
Premium

Pemodal Jumbo Serok Saham PTBA Kala Sentimen Akuisisi PLTU Menyengat

Investor institusi kakap terpantau memborong saham Bukit Asam (PTBA) di tengah tingginya volatilitas usai berhembus rencana untuk mengakuisisi PLTU PLN.
M. Nurhadi Pratomo & Mutiara Nabila
M. Nurhadi Pratomo & Mutiara Nabila - Bisnis.com
26 Oktober 2022 | 13:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Volatilitas transaksi saham PT Bukit Saham Tbk. (PTBA) dalam sepekan terakhir nampaknya justru dimanfaatkan oleh para investor institusi kakap untuk mengakumulasi kepemilikan.

Pergerakan harga saham PTBA bergerak fluktuatif usai berhembusnya kabar rencana perseroan untuk mengakuisisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Sebagai catatan, rencana itu terungkap di sela-sela acara Stated Owned Eterprises (SOE) International Conference di Bali pada Selasa (18/10/2022). Bukit Asam meneken perjanjian kerja sama dengan PLN untuk akuisisi PLTU 2 Jawa Barat-2 di Pelabuhan Ratu yang berkapasitas 3x350 MW.

Setelah wacana itu beredar, harga saham PTBA langsung parkir di zona merah dengan koreksi 6,82 persen ke level Rp3.960 pada akhir sesi Selasa (18/10/2022). Tekanan berlanjut sesi berikutnya dengan terkoreksi 5,81 persen.

Harga saham PTBA baru rebound 2,68 persen ke level Rp3.830 pada Kamis (20/10/2022). Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga menguat tipis 1,88 persen ke level Rp3.800 per akhir sesi pertama Rabu (26/10/2022).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
Berlangganan Sekarang
back to top To top