Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Ada Apa dengan Bank Jago (ARTO)?
Lihat Foto
Premium

Ada Apa dengan Bank Jago (ARTO)?

Dua hari beruntun sahamnya kena auto rejection bawah (ARB), ada apa dengan Bank Jago (ARTO)?
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com
14 Oktober 2022 | 16:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - “Tidak ada apa-apa,” barangkali, adalah jawaban yang paling jujur atas pertanyaan pada judul artikel ini. Namun, justru karena tidak ada apa-apa itu pula, performa saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) akhir-akhir ini tidak begitu menggembirakan.

Di tengah maraknya aksi galang dana perbankan via rights issue dan private placement, ARTO yang sudah punya tenaga lebih dari cukup untuk memenuhi aturan modal inti minimal OJK cenderung pasif. Minim aksi korporasi, investor publik pun terindikasi sedang kekurangan alasan untuk mengakumulasi saham bank rintisan Jerry Ng tersebut.

Sebagai gambaran, sepanjang September 2022 nilai transaksi saham ARTO mentok pada level Rp1,7 triliun. Angka ini turun 36 persen dari rapor Rp2,77 triliun pada bulan sebelumnya. Total saham ARTO yang ditransaksikan di pasaran, yang berkisar 2,34 juta lot sepanjang September juga turun dari rapor 2,83 juta lot pada Agustus. Penurunan yang mengisyaratkan adanya pelemahan likuiditas pasar.

Tren itu, sejauh ini, potensial berlanjut sampai Oktober. Mengingat hingga penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (14/10) saja, harga saham ARTO sudah ditutup babak belur ke level Rp5.025 per lembar. Harga ini merepresentasikan penurunan 23,8 persen secara bulan berjalan alias month-to-date (mtd), serta 68,6 persen year-to-date (ytd).

Perkara minimnya aksi korporasi di sisa tahun tersebut, sebenarnya, sudah sempat diwanti-wanti oleh Tim Riset JP Morgan pada publikasinya, awal semester II/2022. JP Morgan juga telah lebih dulu menurunkan rating rekomendasi untuk saham ARTO dari buy menjadi netral sejak tengah tahun.

Namun, menariknya, aksi korporasi yang bakal minim bukan satu-satunya alasan mengapa Tim JP Morgan yang dipimpin Harsh Wardan Modi menurunkan ratingnya. Modi, dalam pandangan terakhirnya, juga memasukkan kebijakan penawaran bunga perseroan sebagai pertimbangan lain.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
Berlangganan Sekarang
back to top To top