Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Pilah-pilih Saham Properti (CTRA, DILD, PWON, MTLA) Usai Insentif PPN DTP Surut
Lihat Foto
Premium

Pilah-pilih Saham Properti (CTRA, DILD, PWON, MTLA) Usai Insentif PPN DTP Surut

Usai insentif PPN DTP dicabut, saham properti mana yang paling prospektif? Ada CTRA, DILD, PWON, hingga MTLA.
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com
10 Oktober 2022 | 10:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kekuatan pemulihan sektor properti bakal diuji dengan berakhirnya insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) pada September 2022. Sebab, tak sedikit emiten properti yang meraup penjualan berlimpah berkat kebijakan itu, sebut saja PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Intiland Development Tbk. (DILD), PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA), dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON).

PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), misalnya, pada paruh pertama tahun ini membukukan capaian prapenjualan hampir Rp4 triliun dengan perincian sebanyak Rp2,2 triliun dari proyek kerja sama operasi dan Rp1,78 triliun dari proyek sendiri.

Berdasarkan segmentasi, rumah dengan harga di kisaran Rp2 miliar sampai dengan Rp5 miliar menyumbang porsi terbesar 38 persen, kemudian disusul segmen Rp1 miliar–Rp2 miliar sebesar 28 persen, di bawah 1 miliar berkontribusi 20 persen dan di atas Rp5 miliar sebesar 15 persen.

Direktur Ciputra Development Harun Hajadi menjelaskan berakhirnya PPN DTP membuat konsumen otomatis harus membayar PPN. Hal ini lantaran total harga yang harus dibayar konsumen menjadi bertambah.

"Pasti akan berdampak terhadap penjualan, karena berarti secara tidak langsung sama dengan naik harga,” ujar Harun kepada Bisnis dikutip Minggu (9/10/2022).

Emiten properti koleksi Lo Kheng Hong PT Intiland Development Tbk. (DILD), di sisi lain, pada paruh pertama 2022, mencatatkan penjualan perumahan meningkat 26,58 persen menjadi Rp279,95 miliar, kawasan industri meningkat 383,72 persen menjadi Rp176,21 miliar, dan high rise menurun 68,55 persen Rp166,11 miliar.Namun demikian, secara keseluruhan pendapatan usaha tercatat senilai Rp960,4 miliar atau menurun 14,13 persen dari periode yang sama atau year-on-year (yoy).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
Berlangganan Sekarang
back to top To top