Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Historia Bisnis: Bancakan Saham Astra (ASII) Sebelum Krismon
Lihat Foto
Premium

Historia Bisnis: Bancakan Saham Astra (ASII) Sebelum Krismon

Pada masanya, saham Astra (ASII) dikantongi sejumlah konglomerat Tanah Air, sebelum berpindah ke tangan asing hingga kini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com
27 September 2022 | 14:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sebelum berpindah ke tangan asing, saham PT Astra International Tbk. (ASII) sempat dikantongi sejumlah konglomerat Tanah Air. Gonjang-ganjing pemindahan saham Astra, santer pada September 1996.

Titik awalnya bermula sejak tiga tahun sebelumnya. Pada 1993, Bank Summa milik Edward Soeryadjaya, anak pendiri Astra, William Soeryadjaya diterpa krisis hebat sehingga harus dilikuidasi oleh pemerintah. Meski Bank Summa adalah bisnis milik anaknya, William memutuskan menjual seluruh sahamnya di Astra untuk menyelesaikan kewajiban kepada nasabah.

Kala itu, saham Astra jatuh ke tangan konsorsium yang terdiri atas badan pemerintah dan sejumlah taipan seperti Eka Tjipta Widjaja, Prajogo Pangestu, Bob Hasan, dan Grup Salim. Pada 1996, raja kretek Putera Sampoerna membeli 15,8 persen saham Astra yang kemudian dilepas kepada Grup Nusamba milik Bob Hasan setahun setelahnya.

Cerita pemindahan kepemilikan saham Astra terpampang di halaman muka Harian Bisnis Indonesia, Jumat, 27 September 1996. Saat itu, diberitakan bahwa PT SBC Warburg Indonesia kembali memborong saham ASII sejumlah 33,181 juta lembar senilai Rp157,61 miliar. Bersamaan dengan itu, pembicaraan Grup Nusamba dan BUMN serta dana pensiun memasuki tahap final.

Perusahaan sekuritas itu membeli saham Astra di papan tutup sendiri (crossing) tiga menit menjelang penutupan pasar pada Kamis 26 September 1996 pada harga Rp4.750. Sementara di papan asing, SBC Warburg juga membeli 485.000 lembar pada harga yang sama.

Perusahaan itu, pada Selasa 24 September 1996, juga terpantau memborong 50 juta lembar saham Astra pada harga Rp4.750 per lembar. Sumber Bisnis saat itu mengatakan negosiasi pengambilalihan saham Astra berlangsung antara Grup Barito milik Prajogo Pangestu dan Siti Hardiyanti Rukmana atau biasa dipanggil Mbak Tutut.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
back to top To top