Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Vaksin Covid-19 Bio Farma - Istimewa.
Lihat Foto
Premium

Suntikan 'Obat Kuat' BUMN Farmasi, Harga Saham Mantul Lagi di 2022?

Terlepas dari kondisi pandemi Covid-19 tahun depan yang diharapkan melandai, emiten farmasi BUMN tetap menargetkan pertumbuhan signifikan pada tahun depan. Sejumlah strategi dan lompatan besar disiapkan.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com
30 Desember 2021 | 03:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam holding BUMN Farmasi, Kementerian BUMN memiliki 3 perusahaan farmasi yang melantai di bursa, yakni PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), PT Indofarma Tbk. (INAF), dan cucu usaha PT Phapros Tbk. (PEHA).

Adapun, Kimia Farma menargetkan pertumbuhan pendapatan double digit hingga akhir tahun ini. Pada 2022, perseroan menargetkan kinerjanya tumbuh sekitar 20 persen.Direktur Keuangan Kimia Farma Lina Sari mengungkapkan hingga akhir tahun 2021 ini, KAEF optimistis dapat mengalami pertumbuhan double digit."Untuk pertumbuhan top line dan bottom line tahun depan di kisaran 20 persen. Sementara itu, untuk belanja modal berkisar Rp1 triliun," katanya kepada Bisnis, Rabu (29/12/2021).Pada 2022, seiring dengan perkembangan perekonomian yang semakin membaik dan stabil, emiten berkode KAEF ini juga yakin mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan dengan 2021.Beberapa strategi yang akan dilaksanakan KAEF pada 2022 mulai dari peningkatan penjualan, efisiensi operasional dan pengembangan bisnis serta produk, yang akan mendukung pertumbuhan kinerja tahun depan."Untuk belanja modal di tahun 2022, sebagian besar akan gunakan untuk pengembangan bisnis dan produk serta untuk pemenuhan regulasi industri farmasi dan kesehatan," terangnya.Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2021 yang telah diaudit, emiten berkode KAEF tersebut mencatatkan penjualan tumbuh 34,74 persen menjadi Rp9,49 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp7,04 triliun.Walhasil, jumlah laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melejit 711,71 persen menjadi Rp301,93 miliar sepanjang 9 bulan 2021 dibandingkan dengan Rp37,19 miliar pada 9 bulan tahun lalu.Selain itu, KAEF juga menargetkan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue dapat rampung pada kuartal II/2022. Saat ini, perseroan tengah menjajaki calon investor baru.Lina Sari menjelaskan rencana rights issue perseroan kian dekat dan optimistis dapat rampung pada tahun depan."Rencana rights issue kami perkirakan akan selesai pada kuartal II/2022. Untuk investor masih dalam proses pendekatan dimana beberapa investor sudah menandatangani Non Disclosure agreement [NDA]," urainya.Pemerintah tidak berkomitmen menyerap saham baru sehingga KAEF menjajal kedatangan investor strategis baru untuk menyerap rights issue yang tidak diambil pemerintah.Dia juga menyebut Bio Farma sebagai pemegang saham pengendali belum memberikan komitmen untuk mengambil rights issue dalam bentuk Obligasi Wajib Konversi (OWK).Ini artinya, Bio Farma siap terdilusi jika tidak mengambil jatah HMETD-nya. Kendati tidak mengambil HMETD, Bio Farma tetap akan menjadi pemegang saham mayoritas.

EKSPANSI PHAPROS 

Sementara itu, cucu BUMN farmasi PT Phapros Tbk. (PEHA) berencana melakukan perluasan pasar farmasi pada tahun mendatang.Sekretaris Perusahaan Phapros Zahmilia Akbar mengatakan sejauh ini perseroan telah melakukan pengapalan ke dua negara Asean, yakni Filipina dan Kamboja. Di Amerika Latin, Phapros juga menyuplai obat-obatan ke Peru.Zahmilia mengatakan saat ini perseroan dalam proses ekspansi pasar ke Nigeria dan Afrika. Tahun depan perusahaan juga membidik perluasan ke negara-negara lain di Asia Tenggara."Di Asean kami bercita-cita untuk meluaskan negara, karena saat ini baru Kamboja dan Filipina. Kami akan tambah negara [tahun depan]," urainya.Selain perluasan cakupan pasar ekspor, produsen Antimo ini juga berencana memperdalam pasar ekspor yang telah dimasuki dengan menambah jenis produk.Sejauh ini, produk unggulan ekspor selain Antimo yakni multivitamin, obat-obat antiinflamasi, dan analgesik. Namun, strategi perluasan pasar ekspor diakuinya tidak seperti membalikkan telapak tangan karena terkait standardisasi di masing-masing negara tujuan.  Saat ini kontribusi ekspor terhadap total pendapatan perseroan masih berada di bawah 10 persen. Meski tidak menyebutkan angka target, Zahmilia meyakini kontribusi ekspor akan terus tumbuh dalam waktu-waktu mendatang."Sekarang masih di bawah 10 persen. Dengan menambah produk, saya yakin akan semakin tumbuh," katanya.Adapun, kapasitas produksi perseroan saat ini mencapai 3,5 miliar tablet per tahun dengan investasi yang telah dilakukan sejak 2017.Sepanjang tahun ini, Phapros telah merilis sejumlah produk baru seperti kombinasi Vitamin C dan E Becefort, Vitamin C injeksi dan tablet, Vitamin D3, serta Kortikosteroid.Lonjakan permintaan, khususnya produk terkait Covid-19 menyentuh pertumbuhan 200 persen dibandingkan dengan sebelum pandemi.Adapun, Bio Farma menargetkan ekosistem industri kesehatan dari hulu hingga ke hilir di sektor farmasi. Induk holding farmasi ini kini memiliki target pengembangan produk baru hingga menurunkan ketergantungan impor bahan baku obat.Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto menjelaskan Bio Farma memiliki target untuk membentuk industri kesehatan di Indonesia yang mencakup end-to-end healthcare ecosystem."Adapun rencana strategi bisnis ke depan diantaranya, penataan portofolio bisnis produk-produk life science, farma dan alat kesehatan di dalam holding Farmasi," paparnya.Strategi holding farmasi ke depan juga melakukan peningkatan skala bisnis dan penambahan portofolio melalui penambahan produk-produk baru, termasuk meningkatkan efisiensi melalui beberapa inisiatif di antaranya digitalisasi, otomatisasi, joint procurement dan lain-lain.

Holding BUMN farmasi ini menjadi suatu industri bidang yang bergerak dalam bidang kesehatan dengan end-to-end yang lengkap, dimulai dari penelitian dan pengembangan (R&D), manufaktur, distribusi, sampai ke retail apotek, klinik dan lab klinik."Saat ini, Holding BUMN Farmasi, sudah memilikinya paket lengkap end-to-end. Bahkan kami sudah sudah memiliki 1.800 retail baik klinik, lab, maupun apotek, Holding BUMN Farmasi juga memiliki saham di Rumah Sakit dan asuransi kesehatan," ungkapnya.Bambang menjelaskan guna mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya transformasi digital, dari seluruh value chain yang ada. Pemanfaatan kemajuan teknologi sangat diperlukan meningkatkan value setiap mata rantai dan menunjang efisiensi.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top