Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5 - 2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO / Muhammad Adimaja
Premium

Pukulan Beruntun IHSG dari BPJS TK hingga Bitcoin Cs

03 Mei 2021 | 12:45 WIB
Transaksi broker terus membukukan penyusutan sepanjang tahun ini setelah mencatat rekor pada Januari 2021 dengan nilai transaksi gross di seluruh pasar sebesar Rp820,14 triliun.

Bisnis.com, JAKARTA — Tren penyusutan transaksi pialang atau broker saham diprediksi masih akan berlanjut di tengah tekanan jual asing, tren investasi aset kripto Bitcoin Cs, hingga aksi jual asing.

Berdasarkan data Bloom­berg, nilai transaksi pialang saham (gross) sepanjang April 2021 hanya mencapai Rp396,21 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan nilai transaksi sepanjang Maret yang mencapai sekitar Rp525,88 triliun.

Transaksi broker terus membukukan penyusutan sepanjang tahun ini setelah mencatat rekor pada Januari dengan nilai transaksi gross di seluruh pasar sebesar Rp820,14 triliun. Pada Februari 2021 nilai transaksi turun sekitar 28 persen ke Rp591,67 triliun.

Penyusutan transaksi turut berdampak terhadap laju indek harga saham gabungan (IHSG) yang bergerak sideways. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan indeks komposit menguat 0,28 persen year-to-date (ytd) sampai dengan akhir sesi April 2021.

Penguatan IHSG tertahan oleh koreksi sederet emiten berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps yang masuk ke dalam daftar laggard periode berjalan. Tiga penahan utama laju indeks sepanjang periode berjalan 2021 yakni PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang terkoreksi 18,4 persen, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang terkoreksi 5,4 persen, serta PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (MAYA) yang terkoreksi 56,6 persen.

Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia Laksono W. Widodo mengatakan ada beberapa penyebab yang membuat nilai transaksi di bursa terus menipis belakangan ini.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top