Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pesepak bola Bali United Spasojevix (ketiga kiri) berebut bola dengan pesepak bola Persib Bandung A.Idrus (kiri) saat pertandingan Piala Menpora di Stadion Maguwoharjo, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (24/3/2021) ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko - aww.
Premium

Kaesang hingga Raffi Ahmad Demam Akuisisi Klub Bola dan Kisah Galatama

29 Maret 2021 | 18:10 WIB
Geliat industri sepak bola nasional tampak makin bergeliat dengan masuknya para pengusaha dan individu melalui aksi korporasi. Fenomena ini seolah mengingatkan era Galatama beberapa dekade silam.

Bisnis.com, JAKARTA – Sejarah sepak bola nasional pernah mencatat, olahraga 'kulit bundar' sempat menjadi industri yang digemari oleh para pengusaha swasta nasional maupun badan usaha milik negara (BUMN).

Fakta itu terekam dalam sejarah kehadiran Liga Sepak Bola utama alias Galatama, di industri sepak bola nasional. Kala itu, liga tersebut dibentuk atas dasar kesadaran bahwa sepak bola bisa dikelola secara profesional dan menjadi industri menjanjikan di Tanah Air.

Galatama yang merupakan kompetisi semi-profesional dijalankan bersamaan dengan kompetisi amatir, yang dioperasikan oleh klub-klub perserikatan di bawah naungan PSSI. Adapun Galatama berjalan sejak 1979-1994 dengan beragam format kompetisi.

Saat itu, sejumlah pengusaha maupun badan usaha swasta dan pelat merah pun getol menggelontorkan dana untuk membiayai klub Galatama. Ambil Contoh, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB), klub sepak bola milik PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor. Lalu adapula Pardetex yang dimiliki oleh taipan asal Medan, Tumpal Dorianus Pardede.

Selain itu ada juga dari kalangan BUMN yakni PKT Bontang yang disokong dana oleh PT Pupuk Kalimantan Timur dan Semen Padang yang didukung dan dikendalikan oleh PT Semen Padang.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top