Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Premium

Ancaman Defisit Tembaga Global dan Peran Freeport

23 Maret 2021 | 18:01 WIB
Pada 2030, industri tembaga global diproyeksi defisit pasokan hingga 4,7 juta metrik ton per tahun.

Bisnis.com, JAKARTA – Tembaga diprediksikan menjadi komoditas logam yang bakal diburu karena mulai langka jumlahnya di pasar pada 2030.

Hal itu didasarkan pada riset dan laporan dari CRU Group baru-baru ini. Dalam riset tersebut selama kurun 10 tahun ke depan, dunia diperkirakan menghadapi kekurangan suplai tembaga secara besar-besaran.

Seperti dikutip dari Bloomberg, pada 2030, industri tembaga diproyeksi defisit pasokan hingga 4,7 juta metrik ton per tahun.

Kondisi tersebut dapat terjadi jika sektor transportasi dan energi bersih terus berkembang dengan pesat. Industri tembaga pun memerlukan dana hingga US$100 miliar untuk menutup kekurangan pasokan itu.

Sementara itu, firma trader komoditas Trafigura Group menyatakan potensi defisit bisa mencapai 10 juta ton jika tidak ada tambang baru. Untuk menghindarinya, diperlukan pembangunan delapan proyek tambang seukuran tambang tembaga terbesar dunia, yakni Escondida di Chile, milik BHP Group.

Adapun, tembaga menjadi bahan baku yang sangat penting dalam pembuatan kabel, pipa, baterai, hingga kendaraan. Oleh karena itu, material ini pun vital dalam upaya mendorong pengembangan energi berkelanjutan dan kendaraan listrik.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top