Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Produk-produk buatan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) dipamerkan dalam pameran produk bahan baku industri farmasi, pangan fungsional, serta produk nutrisi dan kesehatan pada CPhI South East Asia dan Hi South East Asia 2017 di Jakarta, Rabu (22/3/2017). - Bisnis/Dwi Prasetya
Premium

Induk Sido Muncul (SIDO) Lepas 21 Persen Saham ke Affinity, Begini Besarannya!

03 Februari 2021 | 19:34 WIB
Direktur Utama Sido Muncul David Hidayat membenarkan adanya transaksi crossing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (3/2/2021). Dia menyebut pembelian saham SIDO dilakukan oleh Affinity Equity Partners.

Bisnis.com, JAKARTA - Entitas induk emiten jamu dan farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) melepas kepemilikan sahamnya sebesar 21 persen kepada Affinity Equity melalui transaksi crossing di pasar negosiasi. Nilai transaksinya ditaksir mencapai Rp4,54 triliun.Direktur Utama Sido Muncul David Hidayat membenarkan adanya transaksi crossing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (3/2/2021). Dia menyebut pembelian saham SIDO dilakukan oleh Affinity Equity Partners."Hari ini Sido Muncul, sebagai perusahaan obat herbal terbesar dan produsen produk kesehatan terkemuka di Indonesia, menyambut Affinity Equity Partners [Affinity], investor ekuitas swasta terkemuka di Asia, sebagai pemegang saham di Perusahaan," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (3/2/2021).Menurutnya, kemitraan strategis antara Affinity dengan PT Hotel Candi Baru yang menjadi perusahaan induk emiten bersandi SIDO ini telah berlangsung sejak 3 tahun lalu melalui afiliasinya, Concordant Investment Pte Ltd.Dia menjelaskan dengan crossing saham pada perdagangan hari ini dari entitas induk SIDO, akhirnya Affinity memegang sebanyak 21 persen kepemilihan saham Sido Muncul."Diharapkan kemitraan strategis ini akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan Sido, khususnya melalui pemikiran strategis dan juga melalui kerja sama dengan beberapa mitra Affinity di Asia Pacific sangat dimungkinkan direalisasikan," ungkapnya.Lebih lanjut, David menegaskan pengambilalihan 21 persen saham tersebut setara dengan 6,3 miliar lembar saham. Adapun, berdasarkan laporan harian dari Binaartha Sekuritas transaksi investor asing terhadap SIDO mencapai Rp4,54 triliun.Berdasarkan data Bloomberg, PT Mandiri Sekuritas menjadi broker yang paling aktif mentransaksikan saham SIDO. Mandiri Sekuritas tercatat mengelola transaksi hingga 4,06 miliar saham atau setara Rp2,89 triliun.Dalam laporan transaksinya, Mansek melakukan pembelian saham SIDO senilai Rp1,44 triliun atau 2 miliar saham, dan menjual Rp1,45 triliun atau 2 miliar saham. Hal ini menjadi indikasi terjadinya transaksi crossing di pasar modal.Jika mengacu pada data crossing penjualan saham SIDO dari Mansek, harga pelaksanaan ada pada Rp720 per lembar saham. Dengan demikian, total transaksi untuk 6,3 miliar lembar saham senilai Rp4,54 triliun.Dengan demikian, jika dikombinasikan dengan data registrasi kepemilikan efek November 2020, terjadi perubahan kepemilikan saham SIDO menjadi sebesar 60,98 persen setara 18,59 miliar lembar saham oleh PT Hotel Candi Baru, sebesar 21 persen atau setara 6,3 miliar lembar saham dimiliki oleh Affinity, dan 19 persen atau 5,7 miliar dimiliki oleh publik.Masuknya investasi dari Affinity ini melanjutkan apa yang sudah dimulai SIDO pada 2018. Saat itu, emiten jamu dan farmasi ini mengundang investor baru untuk meningkatkan kinerja melalui pergantian komisaris.Dalam rapat umum pemegang saham umum luar biasa (RUPSLB) 31 Januari 2018 memutuskan untuk memasukkan Eric Marnandus dan Ronnie Behar dalam komposisi komisaris independen. Dua pria tersebut berasal dari Affinity Equity Partners.Selain menjabat sebagai komisaris di SIDO, Eric juga menjabat sebagai Executive Director di Affinity Equity Partners Indonesia dan Ronnie menjabat sebagai Kepala Asia Tenggara di Affinity Equity Partners. Kehadiran dua komisaris independen tersebut akan membuat SIDO lebih mendunia.Perusahaan yang didirikan oleh Rahkmat Sulistio, yang semula sebagai industri rumahan, diharapkan bisa semakin mendunia dengan memiliki partner baru. Saat ini SIDO tengah menanti partner baru tersebut diperkirakan akan masuk pada 2018.Eric menuturkan, saat ini pihaknya tengah melakukan peninjauan untuk masuk sebagai investor strategis di SIDO. Dia mengatakan, pihaknya juga akan memberikan masukan dari pengalaman yang dimiliki untuk membantu mengembangkan pasar domestik dan ekspor.“Iya [kami] sudah masuk. Kami mengharapkan ada potensi yang sangat bagus. Semoga kerja sama ini bisa memberikan dampak positif,” ungkap Eric usai RUPSLB di Jakarta, 3 tahun silam.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top