Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Premium

Bagaimana Nasib AKRA dan Emiten Biodiesel di Tengah Mahalnya Harga CPO?

01 Oktober 2020 | 18:22 WIB
Melebarnya rentang harga CPO dengan minyak diesel lantaran anjloknya harga minyak dunia, diperkirakan menjadi tantangan bagi penerapan kebijakan biodiesel di Indonesia. Lalu bagaimana nasib emiten yang bergerak di sektor biodiesel tersebut?

Bisnis.com, JAKARTA - Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menghadapi tantangan dalam upaya untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. 

Hal itu sebagai dampak melebarnya spread harga CPO dan minyak dan gas bumi, sehingga harga CPO jauh lebih mahal. Akhirnya, dapat menghambat kebijakan B30. Lalu, seberapa berdampak kondisi tersebut terhadap emiten pembuat biodiesel?

Melansir Bloomberg, gasoil yang juga dikenal sebagai minyak diesel, harganya telah merosot lebih dari 45 persen tahun ini.

Kondisi tersebut tidak hanya menghapus pencampuran diskresioner, tetapi juga mengancam mandat biodiesel yang dikembangkan di negara Indonesia dan Malaysia. Hal tersebut berpeluang menggagalkan reli kelapa sawit.

Chairman LMC International James Fry mengatakan lemahnya harga gas dalam kaitannya dengan minyak mentah merupakan pertanda dari kesulitan industri penyulingan minyak bumi

"Spread harga minyak kelapa sawit yang besar berarti biodiesel sawit telah menjadi sumber bahan bakar solar yang sangat mahal," katanya dikutip dari Bloomberg Kamis (1/10/2020).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top