Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pengunjung melintas di dekat papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (22/6/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Premium

Memetakan Emiten yang Akan Terdampak RUU Cipta Kerja

30 September 2020 | 17:11 WIB
Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja (Ciptaker) alias Omnibus Law diyakini berbagai pihak menjadi pendorong arus investasi di Indonesia. Namun seberapa besar efek kebijakan tersebut di pasar modal?

Bisnis.com, JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja (Ciptaker) alias Omnibus Law tinggal selangkah lagi disahkan melalui rapat paripurna DPR RI.

Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut dapat menjadi angin segar bagi pasar modal di Indonesia. Namun seberapa besar efek Omnibus Law tersebut di pasar modal?

Omnibus Law disebut juga undang-undang sapu jagad lantaran mencakup beragam peraturan dan ketentuan. Hal itu, mulai dari perizinan tanah, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, perlindungan UMKM, izin usaha, dukungan riset dan inovasi, hingga administrasi pemerintahan.

Selain itu, beleid ini juga bakal mengubah berbagai hal terkait pengendalian lahan, kemudahan proyek pemerintah, dan kawasan ekonomi khusus.

Berdasarkan riset Ellen May Institute (EMI) disahkannya Omnibus Law dapat menguntungkan beberapa emiten. Ellen May melihat sektor industri konstruksi dan properti paling diuntungkan. 

Pasalnya UU sapu jagad itu berpotensi mengundang investor masuk ke Indonesia karena kemudahan dalam mengurus izin. 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top