Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja membersihakan lantai di depan patung William Soeryadjaya, pendiri Astra. - Antara / Hafidz Mubarak A
Premium

Historia Bisnis: Jatuhnya Saham Astra (ASII) ke BPPN    

17 September 2020 | 11:45 WIB
Para konglomerat yang menjadi pemegang saham ASII antara lain Bob Hasan melalui Nusamba sebesar 10 persen, Anthony Salim melalui PT Indo Artsa Boga kepemilikan 9,3 persen, Prajogo Pangestu dengan kendaraan PT Delta Mustika sebesar 8,4  persen, dan Usman Admadjaja melalui PT Gentala Sanggrahan sebesar 9,25 persen.

Bisnis.com, JAKARTA – Krisis ekonomi 1998 menata ulang konglomerasi Indonesia. Para taipan yang gemar berekspansi harus terduduk dan melihat ke dalam bisnisnya agar selamat.

Demikian juga yang terjadi di PT Astra International Tbk (ASII), setelah keluarga William Soeryadjaya melepas seluruh kepemilikan di Astra akibat skandal Bank Summa, para konglomerat yang memborong saham Astra 7 tahun kemudian yang harus menata ulang bisnisnya.

Krisis ekonomi 1998 yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat neraca utang perusahaan Indonesia membengkak. Akibatnya pendapatan dalam rupiah dan membayar utang dolar membuat perusahaan rugi besar.

Sejumlah konglomerat ini kemudian mengadu ke negara melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Aset yang dinilai berharga kemudian ditukarkan sebagai pembayar utang di perbankan. Sedangkan permasalahan bank ditalangi oleh Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Pemerintah kemudian mencicil utang ke Bank Indonesia itu dengan menukar saham perusahaan .

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top