Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017 di Jakarta, Jumat (28/4). - JIBI/Dedi Gunawan
Premium

Mengintip Prospek Emiten Otomotif di Tengah Wacana Relaksasi Pajak

16 September 2020 | 14:56 WIB
Relaksasi perpajakan untuk sektor otomotif tengah digodok oleh pemerintah. Lalu, seberapa besar dampaknya kepada kinerja emiten otomotif dan produk turunannya?

Bisnis.com, JAKARTA – Pertaruhan besar akan terjadi pada paruh kedua 2020 bagi industri otomotif. Setelah terpukul pada penjualan pada semester 1/2020 akibat Covid-19, kini industri berharap pada relaksasi pajak kendaraan untuk mendongkrak penjualan.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume penjualan kendaraan roda empat atau lebih sepanjang Januari—Juni 2020 menyentuh angka 290.597 unit. Jumlah itu merosot tajam dari periode yang sama tahun lalu yang menembus 500.216 unit.

Gaikindo merinci permintaan relaksasi pajak mobil baru diperlukan untuk menurunkan harga mobil baru.Usulan ini meliputi pemotongan tarif pajak hingga nol persen bagi mobil baru hingga Desember 2020.

Dua komponen pajak yang diminta untuk direlaksasi adalah Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) kepada Kementerian Keuangan dan Bea Balik Nama (BBN) ke Kementerian Dalam Negeri.

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menyebut usulan relaksasi pajak ini diminta oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk meningkatkan penjualan mobil di Indonesia di tengah pandemi wabah corona (Covid-19). 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top