Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). - Bisnis/Abdurachman\\r\\n
Premium

IHSG Hari Ini Anjlok, Bagaimana Pergerakan Saham Saat DKI Jakarta PSBB Pertama?

10 September 2020 | 10:43 WIB
Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok meninggalkan level 5000. Otoritas kemudian memberlakukan trading halt setelah koreksi di atas 5 persen. Koreksi ini tersengat keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk kali kedua. Mari melihat pergerakan indeks saat PSBB pertama kali diberlakukan.

Bisnis.com, JAKARTA –  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (10/9/2020) anjlok dalam setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai Senin (14/9/2020).

Pada awal perdagangan, indeks harga saham gabungan atau IHSG dibuka di level 5.084,326, dan terus melemah hingga 3,55 persen ke level 4.962,776 pada pukul 09.06 WIB. Indeks terus longsor hingga menyentuh 4.935 pada pukul 10.18 WIB. Trading halt atau penghentian perdagangan kemudian dilakukan setelah IHSG menyentuh 4.891,878 atau turun 5 persen.

Berkaca dari pemberlakuan PSBB pertama kali yang diumumkan pada 9 April 2020, IHSG memang cenderung tertekan. Pada hari perdana perdagangan pasca pengumuman itu atau pada 13 April 2020, IHSG terkoreksi 0,005 persen ke level 4.623,08.

Selanjutnya, IHSG cenderung bergerak volatil di rentang 4.500-an. IHSG baru mulai menguat secara berkelanjutan pada 15 Mei 2020, atau hampir sebulan setelah pemberlakuan PSBB. Indeks kemudian bergerak menuju level 5.000-an dan sempat kembali tertahan di kisaran 4.800—4.900 pada Juni, sebelum melanjutkan reli penguatan pada Juli.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Prasetio menilai dibandingkan dengan keputusan PSBB pertama kali, saat ini investor sudah lebih siap dengan risiko yang ada. Dengan demikian, menurutnya kemungkinan aksi jual dalam merespons kebijakan itu bersifat lebih terbatas.

“Kali ini, investor institusi sudah jauh lebih siap dengan segala kemungkinannya. Maka potensi untuk aksi jual juga sudah akan lebih terbatas, terlebih saat ini juga kita sudah mendengar beberapa perkembangan yang positif dari progress vaksin Covid-19,” katanya kepada Bisnis, Kamis (10/9/2020).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top