Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Premium

EMITEN BATU BARA: Cari Peluang di Produk Premium

07 September 2020 | 07:27 WIB
Sejumlah korporasi batu bara memilih berekspansi di produk premium atau kalori tinggi untuk meraup marjin keuntungan yang lebih besar di tengah tren penurunan harga.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan mencari peluang dari kontribusi bisnis batu bara berkalori tinggi untuk menjaga kinerja keuangan tahun ini di tengah fluktuasi harga dan tekanan pelemahan permintaan batu bara termal.

Untuk diketahui, harga batu bara acuan atau HBA untuk periode September 2020 ditetapkan US$49,42 per ton atau turun tipis sebesar US$0,92 per ton dari harga acuan bulan sebelumnya, yakni US$50,34 per ton. Sepanjang tahun berjalan 2020, HBA telah terkoreksi 25,04 persen.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2020 parkir di level US$50,25 per ton pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2020). Sepanjang tahun berjalan 2020, harga telah terkoreksi 29,72 persen.

Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk. Sara K. Loebis mengatakan bahwa pihaknya menargetkan kontribusi penjualan batu baru berkalori tinggi atau kokas melalui anak usahanya, PT Suprabari Mapanindo Mineral sebesar 1,2 juta ton.

Adapun, target itu sedikit lebih tinggi daripada realisasi sepanjang 2019 sebesar 1,15 juta ton. Secara keseluruhan, emiten berkode saham UNTR itu menargetkan penjualan batu bara sebesar 7,9 juta hingga 8 juta ton pada tahun ini.

“Demand coking coal itu stabil, karena pasokannya juga tidak banyak,” ujar Sara kepada Bisnis, Kamis (3/9/2020).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top