Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua. Wilayah ini disebutkan telah ditutup dan beralih ke tambang bawah tanah. - Antara / Muhammad Adimaja
Premium

Jalur Lambat Smelter Freeport Indonesia

04 September 2020 | 23:01 WIB
Setelah Agustus 2018 melaporkan proyek smelter mencapai 5,18 persen, Freeport menyebutkan pada Juli 2020 baru menyelesaikan 5,86 persen proyek yang sama. Ada apa?

Bisnis.com, JAKARTA – Besarnya cadangan emas dan tembaga PT Freeport Indonesia di Papua berbanding terbalik dengan kecepatan perusahaan membangun smelter seperti yang dijanjikan dalam izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan hingga Juli 2020, realisasi pembangunan smelter katoda tembaga perusahaan baru mencapai 5,86 persen. Realisasi itu berada di bawah perencanaan yang seharusnya telah menembus 10,5 persen pada Juli 2020.

Sebagai pengingat, Freeport sendiri melaporkan pada Agustus 2018, progres smelternya sudah 5,18 persen. Artinya setelah 2 tahun berlalu, tidak banyak perubahan dalam perusahaan yang saat ini sebagian sahamnya dimiliki PT Inalum (persero).

Tony Wenas mengklaim pihaknya berkomitmen membangun smelter. Meski ia juga kembali mengulang bahwa pembangunan smelter di Jawa Timur hanya memberikan potensi kerugian bagi Freeport.  Smelter berkapasitas 2 juta ton per tahun itu menurutnya hanya akan membengkakkan biaya.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top