Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Saham farmasi terkerek sentimen vaksin virus corona (Bisnis - Dedi Gunawann)
Premium

EMITEN FARMASI: Laba Sehat, Saham Melesat

09 Agustus 2020 | 05:00 WIB
Mayoritas emiten farmasi mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada semester I/2020, yang diperkirakan berlanjut pada periode enam bulan berikutnya. Sentimen itu turut mendorong kinerja sahamnya.

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten farmasi yang cemerlang pada semester I/2020 berpotensi berlanjut pada paruh kedua tahun ini sejalan dengan tingginya permintaan terhadap obat dan produk kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang belum mereda.Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 7 dari 10 emiten farmasi yang telah menyampaikan laporan keuangan semester I/2020 membukukan pertumbuhan pendapatan.Di sisi profitabilitas, delapan emiten farmasi mampu mencetak kenaikan laba bersih. Bahkan, laba PT Merck Tbk. (MERK) dan PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) melesat hingga tiga digit.Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk MERK per 30 Juni 2020 naik 424,78% year-on-year (yoy) menjadi Rp32,14 miliar kendati pendapatannya tergerus pada semester I/2020.Melesatnya laba pada periode awal tahun tersebut disebabkan upaya perseroan menekan beban pokok penjualan 24,84% secara tahunan menjadi Rp158,31 miliar. Hal ini diikuti dengan penurunan beban penjualan 22,74% yoy menjadi Rp47,52 miliar dan kenaikan pendapatan lainnya 13,76% yoy menjadi Rp5,72 miliar.Selain MERK, PYFA juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih 223,86% secara tahunan menjadi Rp5,7 miliar pada semester I/2020.

“Secara performa, kinerja KAEF semester I tumbuh meskipun baru single-digit mengingat kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang berdampak pada perekonomian, tetapi KAEF masih dapat menunjukkan kinerja positif atau tumbuh dibandingkan dengan tahun lalu,” jelas Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno kepada Bisnis, Jumat (7/8/2020).

Manajemen Pyridam Farma menyampaikan, laba bersih yang tum­buh di atas ekspektasi didorong oleh pertumbuhan penjualan yang ku­at pada beberapa produk yang mem­­berikan margin yang lebih tinggi.Berbekal kinerja semester I/2020 yang moncer, PYFA optimistis tren kenaikan laba akan berlanjut hingga akhir 2020 dan 2021. Untuk mengantisipasi pertumbuhan itu, perseroan bersama para investor menanamkan modal untuk percepatan roda bisnis PYFA.Di sisi lain, emiten berkapitalisasi jumbo PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing 3,81% menjadi Rp11,6 triliun dan 10,28% menjadi Rp1,39 triliun pada semester I/2020.Direktur Keuangan Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata mengatakan walaupun dampak Covid-19 terhadap makroekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 cukup menantang, perseroan dapat mempertahankan pertumbuhan penjualan dan laba bersih yang positif dan stabil.“Pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan bersih terutama disebabkan oleh peningkatan efisiensi di biaya operasional, keuntungan selisih kurs, dan tarif pajak yang lebih rendah,” jelas Bernadus dalam keterangan resmi, baru-baru ini.Sementara itu, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) membukukan kenaikan laba 1,72% yoy menjadi Rp48,57 miliar dan PT Indofarma Tbk. (INAF) memperkecil rugi bersih menjadi Rp4,66 miliar.

KINERJA SAHAMKinerja yang cemerlang dan sentimen vaksin Covid-19 mendorong apre­siasi harga saham emiten farmasi. Dalam sebulan, sa­ham KAEF melesat 162,81%, INAF 202,37%, KLBF 3,27%, MERK 19,45%, dan PYFA 64,29%.Direktur Keuangan Indofarma Herry Triyatno mengatakan kinerja fundamental berpengaruh besar terhadap pergerakan saham INAF. Selain itu, INAF juga me­­lun­­curkan beberapa produk alat kese­hatan untuk mendorong pendapatan.Head of Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan emiten farmasi masih akan diminati investor untuk sisa tahun 2020.“(Saham emiten farmasi) masih akan diminati investor dengan prospek vaksin dan obat memerangi Covid-19,” ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (7/8/2020).Dengan begitu, Lanjar menjagokan saham farmasi seperti PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), PT Indofarma Tbk. (INAF), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), dan PT Merck. (MERK).

Di sisi lain, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan prospek emiten farmasi memang kian cemerlang memasuki semester kedua tahun ini, hal ini dikarenakan harapan bahwa penjualan emiten farmasi akan kembali mengerek laba bersih.“Sebab industri farmasi sedang prospektif seiring dengan adanya faktor pandemi Covid-19,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (7/8/2020).Meskipun demikian, Nafan hanya merekomendasikan saham KLBF di antara semua emiten farmasi yang berada di papan bursa. Menurutnya, sebagai penghuni indeks IDX30, kinerja saham KLBF sangat menjanjikan ditambah dengan kapitalisasi pasar yang besar dan likuiditasnya yang tinggi.Karena itu, Nafan merekomendasikan maintain buy saham KLBF dengan target harga Rp1.850.Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin juga menyatakan kinerja fundamental produsen susu Diabetasol tersebut cukup kuat di tengah kondisi yang menantang pada kuartal kedua tahun ini.“Mengingat dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang lebih terlihat pada periode kuartal II/2020, kami berpendapat bahwa kinerja semester I/2020 KLBF secara keseluruhan masih tangguh,” tulis Mimi dalam publikasi risetnya.Seiring dengan aktivitas ekonomi yang dimulai kembali sejak Juni, sekuritas memperkirakan adanya beberapa perbaikan kinerja KLBF pada kuartal berikutnya.“Kami mempertahankan rekomendasi beli saham KLBF, dengan target harga Rp1.760. Kami menurunkan harga target kami dengan menerapkan target (price-to-earning ratio) P/E 28,7x (mendekati P/E rata-rata) ke earning per share (EPS) proyeksi tahun 2021,” jelasnya.Risiko atas berubahnya rekomendasi sekuritas adalah daya beli konsumen yang lebih lambat dari perkiraan, implementasi kebijakan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang tidak menguntungkan, pengembangan vaksin yang tidak berhasil dan/atau tertunda, dan volatilitas rupiah yang tinggi dan dapat menghambat profitabilitas.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top