Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Kendaraan melintas di pintu Tol Cikampek Utama, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2020). Menjelang Lebaran, salah satu titik kepadatan arus mudik di ruas tol Cikampek terpantau sepi dikarenakan adanya larangan mudik dari Pemerintah demi mencegah penyebaran wabah COVID-19. - ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Premium

75 Tahun Indonesia : Lengangnya Jalan Tol Jasa Marga (JSMR) Akankah Berakhir?

07 Agustus 2020 | 21:06 WIB
Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi pukulan besar bagi PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Apa strategi pengelola jalan tol terbesar Indonesia itu menghadapi tantangan ini?

Bisnis.com, JAKARTA — Sejak berdiri lebih dari 4 dekade lalu, pandemi Covid-19 tampaknya menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Jika biasanya korporasi pengelola jalan tol ini menikmati pertumbuhan yang relatif stabil, maka kini perseroan mesti rela mengalami anjloknya trafik.

Pada April 2020, emiten berkode saham JSMR itu mengungkapkan dalam periode 16 Maret-13 April saja, trafik di Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama minus 27 persen.

Padahal, ruas Jakarta-Cikampek merupakan salah satu kontributor utama perusahaan pelat merah itu. Tahun lalu, ruas ini menyumbang Rp1,28 triliun atau setara dengan 11,24 persen dari total pendapatan jalan tol Jasa Marga.

Kemudian, GT Cikupa minus 26 persen dan GT Ciawi 2 minus 35 persen.

Penurunan ini terjadi setelah pemerintah menetapkan status darurat menyusul kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020. Saat itu, kantor-kantor mulai membatasi aktivitas karyawannya dan memberlakukan kebijakan Work from Home (WFH).

Bahkan, volume lalu lintas (lalin) menjelang dan usai Lebaran 2020 terpangkas hingga 62 persen.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top