Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Didampingi Benny Subianto dan Palgunadi (ketiga dari kiri), William Soeryadjaya tampak tegang ketika mengikuti perkembangan saham PT Astra International Tbk. (ASII) di Bursa Efek Jakarta. Buku William Soeryadjaya, Kejayaan dan kejatuhannya: Studi Kasus Eksistensi Konglomerasi Bisnis di Indonesia, yang ditulis oleh Amir Husin Daulay, Banjar Chaeruddin, B. Wiwoho, dan Marah Sakti Siregar dan diterbitkan oleh  PT Bina Rena Pariwara pada 1993.
Premium

Ambisi Edward, Lepasnya Astra, dan Kejatuhan William Soeryadjaya

01 Juni 2020 | 08:10 WIB
Pertama kalinya dalam sejarah, 14 Desember 1992, pemerintah memberedel bank umum swasta, yaitu Bank Summa, milik Keluarga William Soeryadjaya.

Bisnis.com, JAKARTA —  “Saya rasa Edward akan menjadi hero kalau saja perekonomian sedang bertumbuh baik. Tetapi sayang kondisi perekonomian tidak mendukung,” tutur William Soeryadjaya mengenai anak sulungnya, Edward Seky Soeryadjaya yang tengah dalam kesulitan akibat krisis keuangan Summa Group.

Klimaks tragedi bisnis itu terjadi pada 14 Desember 1992 ketika pemerintah akhirnya melikuidasi Bank Summa, lembaga keuangan milik keluarga William Soeryadjaya.

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah, pemerintah memberedel bank umum swasta. Tak ada yang pernah menduga sebelumnya, pemerintah bakal mengambil keputusan keras seperti itu terhadap sebuah institusi keuangan, di mana masyarakat mulai mempercayakan secara penuh uang mereka di sebuah bank sebagai imbas dari booming perbankan berkat paket kebijakan 27 Oktober 1988 atau Pakto 88, yang memangkas habis aturan yang mempersulit pendirian bank.

Padahal William atau lebih dikenal sebagai Om Willem adalah taipan yang pernah diminta oleh Bank Indonesia untuk menolong Bank Perkembangan Asia yang kolaps tujuh tahun sebelumnya.

Sebelum ditutup, Bank Summa tercatat memiliki aset sekitar Rp1,3 triliun, 82 kantor yang tersebar di 16 provinsi, dan memiliki dana pihak ketiga lebih dari Rp887,4 miliar.

Puluhan ribu nasabah dan deposan pun geger menuntut pengembalian uang mereka. Bergerombol, laiknya demonstran, di berbagai kantor Bank Summa, mereka mengumpat-umpat pengelola serta pemilik bank dan bahkan bertekad hendak menggugat pemerintah, terutama Menteri Keuangan kala itu J.B. Sumarlin dan Gubernur BI Adrianus Mooy.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top