Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pengunjung berada di dekat layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (27/7/2020). - Bisnis/Abdurachman
Premium

Emiten Delisting, Bagian dari Risiko Investor?

27 Mei 2020 | 17:55 WIB
Delisting emiten dari pasar modal adalah hal yang biasa. Namun, apakah perlindungan bagi investor sudah memadai?

Bisnis.com, JAKARTA — Sederet emiten berpotensi tidak lagi diperdagangkan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), alias delisting, sepanjang periode berjalan 2020. Para investor pun harus bersiap menelan pil pahit kerugian.

Setidaknya, sudah ada 15 perusahaan yang diumumkan masuk ke dalam daftar potensi delisting.

Yang terbaru, BEI mengumumkan potensi delisting saham PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk., yang bergerak di bidang perdagangan umum dan distribusi, pada Rabu (27/5/2020). BEI telah menghentikan perdagangan saham emiten berkode saham AIMS itu sejak 29 Oktober 2019.

Sementara itu, hingga April 2020, sudah empat perusahaan yang delisting yakni PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk. (APOL), PT Danayasa Arthatama Tbk. (SCBD), dan PT Leo Investments Tbk. (ITTG).

Data BEI menunjukkan sebanyak enam emiten harus delisting dari bursa pada 2019. Jumlah itu bertambah dari empat perusahaan pada tahun sebelumnya.

Analis pasar modal Hans Kwee mengatakan rata-rata perusahaan yang berpotensi delisting tersebut sudah mengalami kesulitan keuangan bahkan sebelum pandemi Covid-19.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top