Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pilot dan kru pesawat memberi penghormatan terakhir kepada pesawat Garuda Boeing 747-400 di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Tangerang, Banten, Senin (9/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Premium

COVID-19 Meradang, Kinerja Garuda Sulit Terbang

03 April 2020 | 07:43 WIB
Pandemi COVID-19 semakin parah dan diproyeksi berimbas pada rugi GIAA yang semakin membengkak akibat jumlah perjalanan turun.

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi COVID-19 bakal menebalkan kerugian maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Sebelumnya, saat virus yang merebak pertama kali di Wuhan, China itu belum masuk ke Indonesia emiten berkode GIAA pun memiliki pekerjaan rumah untuk merestrukturisasi utangnya. Pelunasan utang dan likuidasi sejumlah anak usaha menjadi agenda agar perusahaan maskapai pelat merah itu terbang semakin lincah.

“Garuda saat ini dalam tekanan yang luar biasa karena utangnya jatuh tempo dan ini kami pastikan kami akan restruktur. Akan ada jalan keluar supaya [Garuda] sehat,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Begitu jawaban penggawa Kementerian BUMN itu tentang manuver yang disiapkan untuk menandaskan utang. Belum selesai permasalahan tersebut, tantangan baru datang dan bakal menghambat kinerja perusahaan.

Dari sisi utang, GIAA masih menggenggam total liabilitas US$3,73 miliar hingga akhir 2019, termasuk liabilitas jangka pendek US$3,25 miliar. Pada saat yang sama, ekuitas BUMN itu tercatat US$720,62 juta dan kas US$297,41 juta.

Garuda pun kembali membukukan laba bersih yakni US$6,98 juta setelah merugi dua tahun berturut-turut yakni US$179,23 juta pada 2017 dan US$231,15 juta pada 2018. Selain membalikkan rugi menjadi untung, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan 5,59% secara tahunan menjadi US$4,57 miliar. Kenaikannya berasal dari pertumbuhan penerbangan berjadwal dan pendapatan lainnya.

Dengan kondisi pandemi yang semakin sulit, Garuda bakal kembali mengecap rugi tahun ini. Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun memprediksi rugi perusahaan pada 2020 mendekati nilai kerugian pada 2017.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top