Kala Krakatau Steel Tak Sekokoh Baja

PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) sedang berbenah untuk menyehatkan kondisi perseroan. Akankah kinerja keuangan dan prospek saham perseroan pelat merah itu kembali bertaji setelah aksi restrukturisasi?
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  08:53 WIB

“Membelokkan kapal besar tak semudah atau secepat kapal kecil.”

Kalimat itu meluncur dari Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Silmy Karim usai menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada April lalu.

Kala itu, Silmy baru 6 bulan duduk sebagai bos perusahaan pelat merah itu. Baru seumur jagung menjabat sebagai dirut, pria berusia 44 tahun itu mengagendakan restrukturisasi besar-besaran.

Tujuan utamanya, meringankan beban utang, membuat ‘kapal’ Krakatau Steel lebih efisien, dan pada akhirnya mampu menghasilkan untung. 

Beruntung, dalam RUPST itu, direksi KRAS mendapat restu para pemegang saham untuk menerbitkan convertible bond dan divestasi kepemilikan saham perseroan di entitas anak sebagai bagian dari rencana restrukturisasi utang perseroan senilai US$2,2 miliar.

Suasana pabrik Krakatau Steel/JIBI

Apa urgensi yang mengharuskan emiten berkode saham KRAS menjalani restrukturisasi? Setidaknya ada dua indikator yang mencerminkan buruknya kondisi keuangan BUMN itu.

Pertama, utang yang menggunung. Dalam 7 tahun terakhir total liabilitas KRAS tidak pernah turun di bawah US$1 miliar. Dalam periode 2016 hingga 2018 bahkan nilainya menembus US$2 miliar, yakni US$2,09 miliar pada 2016, US$2,26 miliar pada 2017, dan US$2,49 miliar pada 2018.

Parahnya, nilai liabilitas jangka pendek jauh lebih besar dari liabilitas jangka pendek. Pada 2018, misalnya, liabilitas jangka pendek KRAS menyentuh US$1,59 miliar, sedangkan liabilitas jangka panjangnya US$899,43 juta.

Dengan total liabilitas itu, rasio liabilitas terhadap ekuitas KRAS pada tahun lalu mencapai 138,77 % dan rasio liabilitas terhadap aset sebesar 58,12%.

Kedua, perusahaan baja itu terus menerus membukukan rugi bersih dalam 7 tahun terakhir. Rapot merah itu menjadi cermin bahwa aktivitas bisnis yang dijalankan KRAS tak mampu mendulang untung.

Dalam periode 2012-2018, nilai rugi terbesar dikantongi KRAS pda 2015. Kala itu, rugi bersihnya mencapai US$320,03 juta atau setara dengan Rp4,48 triliun dengan asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS.

Kerugian KRAS berangsur turun menjadi US$171,69 juta pada 2016, US$81,74 juta pada 2017, dan US$74,81 juta pada 2018. Pada saat yang sama, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) berbalik positif menjadi US$103,24 juta, US$155,17 juta, dan US$102,43 juta dalam 3 tahun terakhir.

Silmy menyebut 2019 merupakan tahun restrukturisasi untuk Krakatau Steel. Untuk itu, perseroan fokus untuk menggolkan negosiasi utang dengan para kreditur.

"Semua inisiatif yang kami rencanakan dilakukan pada 2019. Tahun 2020 adalah turning point KS [Krakatau Steel], akan kelihatan hasil dari restrukturisasi," ucapnya kala itu.

Empat bulan berlalu sejak RUPST, restrukturisasi utang KRAS belum juga berbuah manis. Penandatanganan perjanjian restrukturisasi kredit Krakatau Steel dengan para kreditur sempat direncanakan pada 30 Agustus 2019 di Kementerian BUMN. Namun, agenda itu batal lantaran masih ada negosiasi dengan para kreditur dari kelompok bank non-BUMN.

Selain bank-bank Himbara, KRAS juga memiliki pinjaman dari CIMB Niaga, OCBC NISP, Bank DBS Indonesia, Bank BCA, Bank Danamon, Indonesia Eximbank, dan Standard Chartered.

KRAS kembali berharap Master Restructuring Agreement (MRA) restrukturisasi kredit senilai US$2,2 miliar dengan 10 bank dan lembaga pembiayaan dapat diteken pada 30 September 2019.

Silmy Karim saat masih menjabat sebagai Dirut PT Pindad (Persero) mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla./JIBI

Bak gayung bersambut, upaya Krakatau Steel mengajukan restukturisasi kredit kepada sejumlah perbankan dan lembaga pembiayaan akhirnya berbuah manis. Pada Senin (30/9/2019), KRAS bersama anak usahanya akhirnya meneken perjanjian adendum dan penyataan kembali untuk tujuan restrukturisasi utang.

Bank dan lembaga pembiayaan tersebut yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), PT Bank Central Asia Tbk.

Adapun, beberapa anak usaha KRAS yang terlibat di antaranya PT Krakatau Wajatama, PT Meratus Jaya Iron & Steel, PT KHI Pipe Industries, dan PT Krakatau Engineering.

Silmy menilai perjanjian itu memberikan relaksasi bagi perseroan. Perjanjian itu juga membuka pintu untuk melonggarkan beban keuangan karena tingkat bunga dan tenor menjadi lebih panjang.

Penandatanganan MRA hanyalah babak awal untuk menyelesaikan kewajiban KRAS kepada para kreditur.

Krakatau Steel masih punya kewajiban untuk melakukan pembayaran dan menyelesaikan utang sesuai dengan jadwal melalui skema tranche A yang bersumber pada dana operasional, tranche B yang bersumber pada hasil divestasi, dan tranche C1 yang bersumber pada hasil rights issue.

Ilustrasi pabrik baja./JIBI

Divestasi Aset

Babak lain dari restrukturisasi KRAS ialah perampingan organisasi perusahaan. Konkretnya, Krakatau Steel bakal melepas kepemilikan saham di sejumlah anak usaha non-inti.

Perseroan yang memiliki fasilitas produksi di Cilegon itu mengincar dana US$1 miliar atau sekitar Rp14 triliun dari pelepasan aset non-core. Dana yang didapatkan akan digunakan untuk membayar utang.

Setidaknya ada dua entitas anak yang sedang dalam proses divestasi, yakni PT Krakatau Daya Listrik (KDL) dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Selain KDL dan KTI, perseroan juga akan melepas PT Krakatau Bandar Samudera (KBS).

Saat ini, perusahaan telah menunjuk lembaga independen untuk menilai aset KDL dan KTI.

Silmy menjelaskan, KDL memiliki 2 segmen bisnis yakni pembangkit listrik dan distribusi gas di Kawasan Industri Cilegon. Bisnis pembangkit listrik akan dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Adapun, bisnis distribusi gas akan dilakukan spin off yang selanjutnya dibentuk joint venture dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Silmy menargetkan divestasi KDL dapat selesai pada tahun ini.

Sementara itu, perusahaan sedang menimbang penawaran dengan harga terbaik untuk divestasi KTI. Selain PTPP, Silmy menyebut banyak institusi yang mengajukan minat terhadap anak usaha yang bergerak di bidang distributor dan pengolahan air itu.

"Ada 5 [perusahaan] lainnya," imbuhnya.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PP, mengatakan perseroan memang ingin melakukan pembelian saham KTI. Akan tetapi, hingga 20 Agustus 2019, negosiasi tentang porsi kepemilikan saham masih berlangsung. Selanjutnya, perbincangan mengarah pada valuasi.

“Investasi yang tidak memberikan feeding [kontrak] harus mayoritas karena value added di buku saya harus ada,” jelasnya.

Berdasarkan laporan tahunan 2018, KTI mengantongi pendapatan US$33,71 juta dan laba periode berjalan US$11,45 juta. Total aset sebelum eliminasi mencapai US$84,86 juta.

Memacu Produksi

Di sisi operasional, perusahaan berusia 49 tahun itu berupaya memacu kinerja dengan sejumlah langkah strategis.

Pada awal September 2019, KRAS memulai produksi perdana baja gulungan canai panas (hot rolled coil/HRC) dari pabrik peleburan baja terbarunya blast furnace.

Dengan telah diproduksinya baja slab dan HRC yang bersumber dari blast furnace akan mendorong produk high value added yang dimulai dari produksi di area hulu.

"Harapannya produk baja kualitas kami dapat berkompetisi dengan baik, dengan catatan iklim tata niaga baja yang sehat dapat diciptakan di pasar dalam negeri," katanya.

Tak hanya menjadi milestone baru bagi KRAS, blast furnace juga menimbulkan kontroversi.

Roy Edison Maningkas, Komisaris Independen Krakatau Steel, menyebut investasi proyek blast furnace berpotensi merugikan perusahaan pelat merah itu.

Ketua Komite Pengembangan Usaha dan Risiko Krakatau Steel itu menuturkan investasi untuk proyek yang dimulai sejak 2011 ini telah membengkak, dari rencana semula Rp7 triliun menjadi US$714 juta atau setara Rp10 triliun.

"Proyek ini over Rp3 triliun tanpa tahu hasilnya. Jika diteruskan rugi Rp1,3 triliun per tahun, tetapi jika tidak diteruskan kehilangan Rp10 triliun," ucap Roy.


Ilustrasi pabrik baja./JIBI

Terlepas dari kontroversinya, blast furnace merupakan realisasi ekspansi yang digulirkan KRAS. Selain itu, KRAS juga mempererat kerja sama dengan perusahaan baja asal Negeri Kimchi, Posco. Bersama dengan Posco, KRAS sedang dalam proses meningkatkan kapasitas produksi pabrik PT Krakatau Posco di Cilegon.

Proses itu akan dimulai pada November 2019. Saat ini, kapasitas produksi Krakatau Posco mencapai 3 juta ton dan akan ditingkatkan menjadi 6 juta hingga 8 juta ton per tahun. Ekspansi kapasitas produksi itu merupakan bagian untuk merealisasikan kapasitas produksi 10 juta ton per tahun.

Dalam 3 tahun terakhir, volume produksi baja KRAS bergerak naik turun. Pada 2016, volumenya tercatat mencapai 2,01 juta ton. Lantas, produksi turun menjadi 1,68 juta ton pada 2017 dan kembali naik menembus level 2 juta ton pada 2018.

Di segmen listrik dan air, terjadi pertumbuhan produksi pada 2018. Tahun lalu, KRAS memproduksi 418.592 MWH listrik dan 51,85 juta kubik meter air.

Saham Loyo

Di pasar modal, laju saham KRAS cenderung bergerak turun. Secara historis, KRAS mencatatkan saham perdana di level Rp850 per saham pada 10 November 2010. Sejak itu, KRAS sempat menyentuh rekor harga tertinggi sejak listing di BEI di level Rp1.280 per saham pada 12 November 2010.

Lantas, pada medio Agustus 2011 hingga kini, KRAS tidak pernah kembali ke level harga Rp1.000 per saham. Bahkan KRAS sempat terpuruk ke rekor harga terendah Rp284 per saham pada 18 Desember 2015.

Dalam 9 bulan pertama tahun ini, KRAS melanjutkan tren bearish. Berdasarkan data Bloomberg, KRAS terkoreksi 12,92% year-to-date dan menyentuh level Rp350 pada akhir perdagangan Senin (30/9/2019).

Sepanjang tahun berjalan 2019, KRAS bergerak di kisaran Rp322 hingga Rp525. Level harga tertinggi KRAS itu sempat disentuh pada 11 Februari 2019.

Baru-baru ini, saham KRAS memantul 7,91% pada perdagangan Jumat (6/9/2019). Saat itu, analis Panin Sekuritas William Hartanto berpendapat rencana investasi Posco melalui peningkatan kapasitas produksi pabrik di Cilegon menjadi sentimen positif bagi saham KRAS. Rencana tersebut sekaligus memberikan sedikit perbaikan kinerja bagi produsen baja BUMN itu.

Dia mengatakan, saham KRAS telah mengalami akumulasi besar sejak dua pekan lalu. Ini mencerminkan adanya minat beli yang tinggi sehingga berpotensi menguat.

"Saya rekomendasi beli dengan target harga Rp400," katanya.

Sementara itu, Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe menilai penguatan saham KRAS hanya bersifat sesaat karena secara fundamental perseroan masih mencatatkan rugi.

"Saya rekomendasi hold dengan target harga Rp390," imbuhnya.

Dalam risetnya, analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan prospek pertumbuhan KRAS akan datang dari restrukturisasi utang dan peluang konsolidasi dengan induk Holding BUMN Pertambangan, PT Inalum (Persero).

"Mengingat program restrukturisasi utang, kami percaya rasio gearing KRAS akan membaik dalam jangka panjang," tulisnya.

Selain itu, program restrukturisasi utang juga akan memangkas suku bunga utang KRAS yang berdenominasi dolar AS ke bawah 5%.

"Dalam jangka panjang, konsolidasi ke dalam Inalum kemungkinan akan menguntungkan KRAS karena sinergi antara KRAS dan anak perusahaan Inalum lainnya," kata Andy.

Menurutnya, salah satu keunggulan kompetitif KRAS ialah pangsa pasarnya yang besar di domestik, yakni 39% untuk produk hot rolled coil (HRC) dan 25% untuk cold rolled coil (CRC).

Akankah proses restrukturisasi Krakatau Steel membuat fundamental perseroan kembali kokoh? Mampukah strategi itu menjadi angin segar yang mendongkrak harga KRAS di bursa saham? Kita tunggu saja...

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, krakatau steel, fokus

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top