Menakar Prospek Saham Lapis Dua Sepanjang 2019

Tahun lalu, pergerakan saham lapis dua cukup menarik perhatian dan bahkan mampu menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan. Bagaimana dengan tahun ini?
Lalu Rahadian | 13 Februari 2019 16:35 WIB
Pengunjung mengambil foto monitor perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Tahun lalu, pergerakan saham lapis dua cukup menarik perhatian dan bahkan mampu menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Marolop Alfred Nainggolan menyatakan kondisi pasar yang bagus dan kepercayaan investor akan menjadi faktor penguat berkembangnya saham-saham lapis kedua pada 2019. Menurut dia, investor akan tertarik masuk ke saham small-medium cap bila saham-saham big cap atau lapis pertama sudah stabil.

Saat ini, stabilitas saham-saham besar di bursa efek diyakini terjaga. Oleh karena itu, investor berani menanamkan modal di saham menengah ke bawah.

“Tahun ini, kami perkirakan bursa [tumbuh positif]. Akhir tahun kemarin saja, [Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG] bisa ditutup di atas level 6.000 dan sekarang masih menguat,” ujar Alfred kepada Bisnis, Selasa (12/2/2019). 

IHSG ditutup di level 6.194 pada hari perdagangan terakhir 2018, menguat 0,06% dari hari sebelumnya. Namun, secara year-to-date (ytd), sebenarnya IHSG terkoreksi 2,54%.

Beton untuk proyek infrastruktur dari T Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP)./Istimewa

Adapun pertumbuhan saham lapis kedua yang signifikan diprediksi dialami emiten infrastruktur, perbankan, dan manufaktur. Lebih spesifik, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL), PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), PT Bank Bukopin Tbk. (BBKP), dan PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL).

Emiten-emiten di tiga sektor ini dipandang prospektif karena sejumlah faktor, di antaranya tingginya permintaan pasar, terjaganya pertumbuhan ekonomi, dan rendahnya harga minyak dunia pada awal 2019.

Saham emiten infrastuktur seperti WSBP memiliki prospek bagus karena masih tingginya pemakaian jasa konstruksi tahun ini. Kemudian, saham seperti BBKP memiliki harapan lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi masih bagus pada 2019.

“Apalagi, pada 2018, pertumbuhan kredit kita melaju baik. Pada awal tahun, pertumbuhan kredit 8%, tapi di akhir tahun bisa ditutup di angka 12%. Padahal, sepanjang 2018, suku bunga kredit naik, justru confident, dan pertumbuhan kredit bisa besar,” terangnya.

Adapun emiten manufaktur dinilai bisa dilirik karena rendahnya harga minyak dunia dan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun. Faktor-faktor itu dipercaya akan berkontribusi terhadap efisiensi yang dilakukan emiten manufaktur seperti SRIL dan GJTL.

Saat ini, harga minyak WTI berada di kisaran US$53 per barel, sedangkan minyak Brent di level US$62 per barel. Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 2,6% sejak awal tahun ke level Rp14.088 per dolar AS pada Selasa (12/2).

Karyawan menghitung rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

“Kalau dari sisi internal ya karena valuasi [saham emiten] yang disebutkan cukup murah. Bank Bukopin itu Price Book Value-nya (PBV) masih 0,5 kali. Jadi, relatif cukup murah,” lanjut Alfred.

Sebagai perbandingan, pada emiten perbankan, PBV BBKP tergolong rendah dibanding perusahaan lain seperti PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) (0,87), PT Bank BRI Syariah Tbk. (BRIS) (1,07), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) (1,25), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) (1,24).

Harga Komoditas dan Kebijakan Pemerintah
Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyebut saham PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP), PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) sebagai saham-saham yang pantas diperhatikan.

Saham-saham emiten perkebunan, pertambangan, manufaktur, dan consumer goods itu masuk hitungan didukung oleh faktor internal dan eksternal.

Saham BWPT misalnya, berpotensi tumbuh karena lahan perkebunan mereka sudah memasuki usia matang. Produksi sawit yang bisa dihasilkan pohon-pohon berusia dewasa berpeluang meningkatkan produksi dan penjualan.

“Sejauh ini, pergerakan harga CPO pun masih bertahan di area 2.200 ringgit per ton. Kita berharap demand CPO global meningkat secara perlahan seiring dengan, katakanlah skenario positifnya, terkait dampak negosiasi perdagangan bebas,” jelas Nafan.

Sementara itu, saham ISSP dan KRAS prospektif karena adanya kebijakan pemerintah membatasi impor baja dari China. Kebijakan itu telah berlaku sejak 20 Januari 2019.

Dia melanjutkan ISSP dan KRAS harus maksimal memanfaatkan peluang dari pembatasan impor baja yang dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan mempercepat proses pembangunan infrastruktur di pabrik masing-masing agar bisa meningkatkan produksi.

Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. di Cilegon, Kamis (7/2/2019)./ANTARA-Asep Fathulrahman

Produksi mesti cepat digenjot karena pasar ekspor diprediksi bakal terbuka setelah adanya pembatasan impor dari Negeri Panda. Ekspor baja global dari China juga diproyeksi akan menyusut tahun ini.

Adapun MYOR dinilai bakal mendapatkan keuntungan dari berbagai kebijakan pemerintah yang pro pasar, salah satunya kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diyakini akan mendorong daya beli. Hal itu diprediksi berdampak positif pada emiten consumer goods seperti MYOR.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memiliki pandangan lain. Dia memandang pertumbuhan nilai saham-saham lapis kedua tergantung sentimen para investor.

Reza juga menyebut faktor pasar yang dalam kondisi bagus akan meningkatkan prospek saham lapis kedua. Selain itu, pertumbuhan akan dipengaruhi isu, rumor, maupun pemberitaan yang menimpa emiten-emiten terkait.

Sejumlah emiten yang dinilainya prospektif antara lain PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI), PT Elnusa Tbk. (ELSA), PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD), PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA), PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC), PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), dan PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA).

Tag : saham, fokus
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top