Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Indeks Dolar Lesu, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp15.696

Rupiah menguat tipis ke Rp15.696 per dolar AS seiring dengan pelemahan indeks dolar AS. 
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 22 November 2022  |  15:44 WIB
Indeks Dolar Lesu, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp15.696
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah ditutup menguat tipis sebesar  0,10 persen pada perdagangan Selasa (22/11/2022) di tengah pelemahan indeks dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 16 poin atau 0,10 persen ke Rp15.696 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,22 persen ke 107,59.

Bersama dengan rupiah, sejumlah mata uang di Asia seperti yen Jepang menguat 0,21 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, rupee India menguat 0,17 persen, yuan China menguat 0,20 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,15 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS melemah meskipun tetap tinggi pada Selasa setelah reli semalam. Hal ini membuat investor berbondong-bondong ke mata uang safe-haven di tengah kekhawatiran atas gejolak Covid di China.

China memperingatkan pada Senin kembali menghadapi ujian paling parah dari pandemi Covid-19, dengan lonjakan kasus Covid-19 yang memicu langkah-langkah pembatasan baru. Kematian akibat virus juga tercatat di Beijing untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.

Di sisi lain, imbal hasil Treasury AS di sebagian besar jatuh tempo naik lebih tinggi semalam, karena investor terus menilai ulang ekspektasi seberapa tinggi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga karena upaya untuk menurunkan inflasi dari mendekati level tertinggi 40 tahun.

Pidato dari pembicara Fed pada hari Senin memberikan beberapa kejutan, dengan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan bank sentral dapat menurunkan ke kenaikan suku bunga yang lebih kecil mulai bulan depan. Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan dampak dunia nyata dari kenaikan suku bunga kemungkinan lebih besar dari target suku bunga jangka pendeknya.

Dari sisi internal, pasar masih mencerna pernyataan Bank Indonesia (BI) yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat disertai dengan tingginya tekanan inflasi, agresifnya kenaikan suku bunga acuan di negara maju, serta berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan.

“Ada ancaman baru yang saat ini tengah membayangi gejolak ekonomi global. Ancaman itu dinamakan resflasi, atau merupakan gabungan dari risiko resesi dan tingginya inflasi,” ungkap Ibrahim dalam riset, Selasa (22/11/2022).

Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi global kemungkinan turun dari yang semula diprediksi berada di 3 persen pada 2022, turun menjadi 2,6 persen pada 2023, yang berakibat pada probabilitas resesi di AS dan Eropa mendekati 60 persen.

Tekanan inflasi dan inflasi inti global juga diprediksi masih tinggi hingga 2023. BI memperkirakan, tingkat inflasi dunia dapat menyentuh 9,2 persen (year-on-year/yoy) hingga akhir tahun, dan masih tinggi pada 2023 tapi akan mendingin ke 5,2 persen.

BI bahkan memperkirakan, AS akan menaikan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin sehingga menjadi 4,5 persen pada akhir 2022. Kenaikan suku bunga akan mencapai puncaknya pada paruh pertama 2023, dan tidak akan segera turun.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.670 - Rp15.740.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah dolar as Covid-19 Suku Bunga
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top