Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks Dolar AS Keok, Rupiah Melejit Nih!

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 70,5 poin atau 0,48 persen ke level Rp14.626 per dolar AS pukul 09.02 WIB. Indeks dolar terpantau melemah 0,05 persen atau 0,052 poin ke posisi 104.14.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  09:19 WIB
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis - Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (17/5/2022). Di sisi lain, mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka menguat 70,5 poin atau 0,48 persen ke level Rp14.626 per dolar AS pukul 09.02 WIB. Indeks dolar terpantau melemah 0,05 persen atau 0,052 poin ke posisi 104.14.

Bersamaan dengan rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga menguat seperti won Korea Selatan yang menguat 0,50 persen, yuan China menguat 0,24 persen, dan baht Thailand naik 0,16 persen. Sementara itu, yen Jepang terpantau melemah 0,13 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi sebelumnya mengatakan dolar naik ke level tertinggi baru 20 tahun karena berlanjutnya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven.

Ibrahim menjelaskan, saat ini investor condong ke aset safe-haven seperti dolar AS karena kekhawatiran telah meningkat tentang kemampuan Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi, serta dampak dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus Covid-19 di China yang melemahkan permintaan. 

Kekhawatiran tentang lingkungan stagflasi yang berkepanjangan dari pertumbuhan yang lambat dan harga yang tinggi juga telah mengurangi selera terhadap risiko.

Dari sisi internal, berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2022 tetap tinggi sebesar US$135,7 miliar, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2022 sebesar US$139,1 miliar. 

Penurunan posisi cadangan devisa pada April 2022 antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan antisipasi kebutuhan likuiditas valas sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Pada bulan ini, cadangan devisa tersebut berisiko semakin menurun jika melihat nilai tukar rupiah yang terus tertekan dan capital outflow yang terjadi di pasar obligasi. BI tentunya akan lebih banyak melakukan intervensi. Ketika cadangan devisa perlu digunakan untuk melakukan intervensi, pasokan devisa justru akan semakin seret di bulan ini. Pasalnya, pemerintah melarang ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan semua produk turunannya.

CPO yang termasuk dalam ekspor HS 15 (lemak dan minyak hewani/nabati) merupakan salah satu penopang neraca perdagangan Indonesia hingga mampu mencetak surplus dalam 23 bulan beruntun. Kontribusinya terhadap total ekspor menjadi yang terbesar kedua setelah HS 27 (bahan bakar mineral) yakni batu bara.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor HS 15 sepanjang kuartal I/2022 mencapai US$7,9 miliar mengalami kenaikan lebih dari 13 persen dari periode yang sama tahun lalu. Setiap bulannya ekspor CPO dan produk turunannya tersebut berada di kisaran US$2,5 miliar - US$3 miliar. Nilai tersebut tentunya akan lenyap jika sepanjang bulan ini ekspor CPO masih dilarang, pasokan devisa pun menjadi seret.

Untuk perdagangan pekan ini, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun bisa ditutup melemah di rentang  Rp.14.600—Rp14.660.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Rupiah nilai tukar rupiah kurs dolar
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top