Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sentimen Global Tekan Pasar Obligasi Negara, Waspadai Hal Berikut Ini

Pemerintah mesti memperhatikan keseimbangan yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer dan sekunder seiring dengan meningkatnya tekanan global di pasar obligasi negara.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  20:08 WIB
Sentimen Global Tekan Pasar Obligasi Negara, Waspadai Hal Berikut Ini
ilustrasi obligasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah mesti memperhatikan keseimbangan yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer dan sekunder seiring dengan meningkatnya tekanan global di pasar obligasi negara.

Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menjelaskan saat ini pasar Surat Utang Negara (SUN) tengah tertekan karena suku bunga The Fed yang naik 50 basis poin (bps) pada awal Mei 2022.

Kenaikan tersebut, lanjutnya di luar kebiasaan karena biasanya hanya 25 basis poin. Hal ini, terangnya, menunjukkan kondisi di AS memberikan tekanan yang tak terhindarkan.

"Akibatnya suku bunga SBN di emerging market termasuk Indonesia melemah, potensi pelemahan ini masih terbuka, di seluruh dunia belum lihat level stabil dari yield US Treasury di angka berapa. The Fed awal tahun menyebut akan menaikkan 3 kali, biasanya 25 bps setiap naik, ini baru sekali sudah setara 50 bps," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (17/5/2022).

Imbal hasil SUN acuan tenor 10 tahun mencapai 7,49 persen. Sementara itu, pemerintah hari ini menggelar lelang sukuk negara dengan target Rp9 triliun.

Sepanjang tahun ini, pemerintah mengumpulkan Rp302,35 triliun dari target Rp363 triliun. Untuk menggalang dana di pasar yang berisiko, pemerintah telah menggelar 7 kali lelang tambahan sepanjang tahun ini.

"Pemerintah ada target penerbitan di sisi lain, tidak selamanya target terpenuhi, cuma tahun kemarin terpenuhi walaupun dari jumlah penerbitan 2020 dan 2021 lebih tinggi dari biasanya," katanya.

Dia menyebut rata-rata penerbitan obligasi negara sebelum pandemi antara Rp300--Rp450 triliun. Saat pandemi pada 2020 dan 2021 rata-rata penerbitan naik dua kali lipat antara Rp800--Rp900 triliun.

"Jumlah yang naik 2 kali lipat ini malah terpenuhi, kepercayaan pasar kita membaik, malah yield kita menguat, dengan pelemahan yield ini membuat investor cukup yakin masuk ke pasar," terangnya.

Menurut Ramdhan, menghadapi tekanan kali ini pemerintah wajib melakukan efisiensi dan dan tidak memaksakan penerbitan karena memang biasanya penerbitan tidak selalu berakhir baik karena tidak dibarengi permintaan yang baik.

Lelang tambahan yang dilakukan pemerintah lanjutnya, memang umum dilakukan, tetapi biasanya peminat juga tidak terlalu tinggi bahkan kadang tidak sampai setengah jumlah lelang hari pertama.

"Untuk cukupi itu lelang tambahan itu tidak apa, lazim dilakukan, dijaga saja yield seimbang di primary dan secondary market kalau lihat utang ini salah satu sumber relatif lebih mudah," tuturnya.

Pemerintah lanjutnya, dapat pula memanfaatkan skema penerbitan melalui global bond atau obligasi global juga melalui private placement (PP). Kedua mekanisme ini biasanya mendapatkan hasil yang cukup besar dibandingkan dengan penerbitan dalam negeri.

"Kondisi eksternal begini kehati-hatian tinggi, cost of fund bisa lebih tinggi. Selain efisiensi, strategi penerbitan jumlah besar lewat global bond dan private placement dapat dilakukan, keseimbangan global bond dan dalam negeri juga mesti dijaga di komposisi stabil 20--30 persen penerbitan global bond dalam setahun," urainya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat berharga surat utang negara
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top