Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dian Swastatika (DSSA) Serap Capex US$30 Juta pada Kuartal I/2022

Realisasi capex Dian Swastatika Sentosa (DSSA) selama kuartal I/2022 setara dengan 21 persen dari alokasi total untuk tahun ini yang mencapai US$137 juta.
Ilustrasi. Karyawan PT DSSP Power Kendari, salah satu anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk di sektor kelistrikan./dssa
Ilustrasi. Karyawan PT DSSP Power Kendari, salah satu anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk di sektor kelistrikan./dssa

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), telah merealisasikan sekitar US$30 juta atau setara Rp437,55 miliar (asumsi kurs Rp14.585) untuk belanja modal atau capital expenditure (capex). Perseroan akan fokus membelanjakan alokasi capex untuk bisnis pertambangan di Australia.

Direktur DSSA Alex Sutanto mengatakan realisasi capex selama kuartal I/2022 setara dengan 21 persen dari alokasi total untuk tahun ini. Dia mengatakan perusahaan menyiapkan sekitar US$137 juta atau Rp1,99 triliun untuk belanja modal.

“Jadi untuk capex di kuartal I/2022 realisasi di sekitar US$30 juta, sedangkan target alokasi pada 2022 kami secara konsolidasian adalah US$137 juta. Terutama untuk bisnis pertambangan di Australia,” kata Alex dalam paparan publik, Kamis (12/5/2022).

Alokasi capex DSSA untuk 2022 lebih tinggi dibandingkan dengan 2021 yang ditetapkan sebesar US$67 juta. Namun mengacu pada laporan keuangan perusahaan, jumlah kas bersih yang digunakan DSSA untuk investasi mencapai US$210,95 juta sepanjang 2021.

Adapun pada 2021 DSSA mencatatkan pendapatan usaha senilai US$2,16 miliar, jumlah ini lebih besar dari pendapatan usaha US$1,50 miliar pada 2020.

Kendati beban usaha perusahaan naik ke US$404,97 juta pada 2021 dari US$354,28 juta pada 2020, DSSA berhasil mencetak laba kotor US$902,11 juta pada 2021 dari tahun sebelumnya senilai US$527,92 juta.

Laba usaha DSSA tercatat mencapai US$497,13 juta pada 2021 dari tahun sebelumnya US$173,64 juta pada 2020. Laba sebelum pajak tercatat mencapai US$397,37 juta sepanjang 2021, berbalik dari rugi US$5,41 juta pada 2020.

Selanjutnya, laba tahun berjalan mencapai US$265,33 juta pada 2021, berbalik dari dari rugi US$US$57,87 juta pada 2020. Adapun, laba per saham diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$0,16 dari rugi US$0,11.

Meskipun kinerja perusahaan menunjukkan peningkatan pada 2021, Alex mengatakan perusahaan tetap berhati-hati dalam melakukan pengeluaran biaya dan selektif dalam merealisasikan belanja modal. Kenaikan kinerja pada 2021 tidak lepas dari meningkatkan performa lini bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara di tengah kenaikan harga komoditas.

Kontribusi pendapatan dari bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara pada 2021 mencapai 89,5 persen dari total pendapatan, naik dari kontribusi 2020 sebesar 75,9 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper