Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indofarma (INAF) Mengebon Rp355 Miliar ke Bio Farma, Buat Apa?

Indofarma (INAF) melakukan pinjaman dana senilai Rp355 miliar kepada pemegang saham pengendalinya, Bio Farma.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 23 April 2022  |  12:22 WIB
Pabrik PT Indofarma Tbk. Pada 2019, perusahaan farmasi milik negara itu berhasil mencetak laba setelah tiga tahun menderita kerugian. - indofarma.id
Pabrik PT Indofarma Tbk. Pada 2019, perusahaan farmasi milik negara itu berhasil mencetak laba setelah tiga tahun menderita kerugian. - indofarma.id

Bisnis.com, JAKARTA – PT Indofarma Tbk. (INAF) melakukan pinjaman dana kepada PT Bio Farma (Persero) sebanyak Rp355 miliar.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pinjaman yang dilakukan INAF kepada Bio Farma selaku pemegang saham pengendali perseroan tersebut digunakan untuk menutup pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri Perseroan dan PT Indofarma Global Medika.

Lebih lanjut, dana pinjaman juga akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja perseroan. Transaksi Afiliasi ini sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.42/POJK.04/2020.

 “Nilai pinjaman Perseroan kepada PT Bio Farma (Persero) sebesar Rp355.000.000.000 yang akan digunakan untuk penutupan pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri Perseroan dan PT Indofarma Global Medika serta kebutuhan modal kerja Perseroan,” tulis INAF dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (23/4/2022).

Bio Farma merupakan pemegang saham pengendali INAF dengan kepemilikan sebesar 80,66 persen. Perseroan memerlukan modal untuk mendukung rencana kerja, terutama dalam rangka mendukung percepatan implementasi strategi fokus usaha di bidang alat kesehatan.

Hal ini sesuai dengan program kerja Holding BUMN Farmasi sekaligus membantu upaya pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19.

Pada perdagangan pasar modal Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (22/4/2022), saham INAF terpantau stagnan dan ditutup di level 1.300. Emiten dengan kapitalisasi pasar Rp4,03 triliun ini sempat menyentuh level terendah 1.290 dan level tertinggi 1.310.

Di sisi lain, BUMN itu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang 2021. Kendati demikian, perseroan malah berbalik rugi bersih seiring peningkatan beban yang signifikan.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember yang telah diaudit, Rabu (20/4/2022), emiten berkode INAF ini mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp2,9 triliun naik 69,15 persen dibandingkan dengan Rp1,71 triliun pada 2020.

Sayangnya, kinerja penjualan yang ciamik ini tidak dibarengi dengan efisiensi, sehingga beban pokok penjualan perseroan juga turut meningkat signifikan 86,45 persen dari Rp1,31 triliun menjadi Rp2,45 triliun pada 2020.

Hal ini membuat pertumbuhan laba bruto perseroan tidak signifikan hanya naik 12,74 persen menjadi Rp451,65 miliar per 2021 daripada Rp400,59 miliar pada 2020.

Setelah itu, INAF juga mencatatkan kenaikan beban penjualan Rp10 miliar menjadi Rp153,15 miliar, beban umum dan administrasi naik Rp23 miliar menjadi Rp148,53 miliar, dan kerugian lain-lain naik Rp22 miliar menjadi Rp97,98 miliar.

Dengan begitu, laba usaha INAF malah tergerus 51,47 persen menjadi hanya Rp8,77 miliar dari Rp18,08 miliar pada 2020.

Setelah dikurangi pajak dan lain-lain, INAF mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp37,58 miliar pada 2021, berbanding terbaik dengan 2020 yang mencatatkan laba bersih Rp27,56 miliar.

Perseroan pun mencatatkan rugi bersih per lembar saham sebesar Rp12,12 per lembar pada 2021 berkebalikan dengan laba per saham Rp0,01 per lembar pada 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bei BUMN indofarma restrukturisasi utang Biofarma
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top