Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Berakhir Merah, Biden Umumkan Larangan Impor Migas Rusia

Kekhawatiran resesi yang didorong oleh kecemasan atas konsekuensi ekonomi dari perang Rusia di Ukraina telah mendorong investor untuk membuang saham dan menimbun aset safe-haven.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 09 Maret 2022  |  05:57 WIB
Wall Street Berakhir Merah, Biden Umumkan Larangan Impor Migas Rusia
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat kembali menutup perdagangan Selasa (8/3/2022) di zona merah lantaran investor mempertimbangkan rencana Presiden Joe Biden yang melarang impor minyak dan energi dari Rusia.

Berdasarkanm data Bloomberg, Rabu (9/3/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,56 persen atau 184,74 poin ke 32.632,64, S&P 500 tergelincir 0,72 persen atau 30,39 poin ke 4.170,70, dan Nasdaq terkoreksi 0,28 persen atau 35,41 poin ke 12.795,55.

Kekhawatiran resesi yang didorong oleh kecemasan atas konsekuensi ekonomi dari perang Rusia di Ukraina telah mendorong investor untuk membuang saham dan menimbun aset safe-haven dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, harga energi telah meroket pada pembicaraan negara-negara Barat yang akan menghentikan penggunaan energi Rusia. Pemerintahan Biden bergerak maju dengan larangan impor minyak mentah dari negara itu pada Selasa tanpa partisipasi dari beberapa sekutu Eropa. Pihaknya mengakui negara-negara lain mungkin tidak dalam posisi untuk bergabung.

Inggris juga diperkirakan akan menghentikan impor minyak Rusia pada akhir 2022 dan mempertimbangkan untuk melarang gas alamnya.

Melonjaknya harga minyak tidak dapat secara tunggal memicu resesi dan akan membutuhkan lebih dari harga energi setinggi langit agar dampak konsumen menjadi resesi,” kata David Bahnsen, Chief Investment Officer perusahaan eponymoys, The Bahnsen Group.

Menurutnya, pertanyaan besar sekarang adalah apa rencananya untuk menggantikan minyak Rusia dalam kebutuhan pasokan Amerika dan Eropa dan kemudian seberapa efektif embargo meredakan situasi militer di Ukraina.

Produk energi Rusia hanya terdiri dari 7,9 persen dari total impor minyak bumi, termasuk minyak mentah, di AS, tetapi negara-negara Eropa lebih bergantung pada minyak mentah Rusia dan gas alam untuk energi.

“Anda akan melihat sumber pasokan alternatif dari negara-negara yang mungkin belum pernah menjadi bagian dari ekonomi maju sebelumnya. Anda melihat China, India, dan Amerika Latin berdiri dan berkata 'kita juga bisa melakukan ini,” kata CEO Interos Inc. Jennifer Bisceglie kepada Yahoo Finance Live.

Minyak mentah berjangka WTI naik menjadi US$124,12 per barel pada Selasa, sementara minyak mentah berjangka Brent mencapai US$128,38 per barel. Emas berjangka tetap di atas US$2.000 per ounce setelah mencapai level tertinggi dalam 18 bulan pada hari Senin.

Sementara harga minyak bisa naik di atas US$150 per barel dan lebih dari itu, pertanyaan kunci bagi investor bukanlah berapa harga minyak yang bisa dicapai, tapi berapa harga minyak yang bisa dipertahankan," kata Bahnsen.

Sementara itu, perdagangan Nikel dihentikan di London Metal Exchange (LME) setelah harganya melonjak di atas US$100.000 per metrik ton berkat penurunan komoditas yang didorong oleh kekhawatiran pasokan atas perang Rusia-Ukraina. LME mengatakan tidak berharap untuk memulai kembali perdagangan nikel sebelum 11 Maret.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top