Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Turun, Rusia Siap Kirim Utusan untuk Bicara dengan Ukraina

Untuk minggu ini harga minyak Brent naik sekitar 4,7 persen, sementara minyak WTI berada di jalur untuk naik sekitar 0,6 persen.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Februari 2022  |  07:30 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak melemah pada akhir perdagangan Jumat (25/2/2022) waktu Amerika Serikat, setelah naik tajam di awal sesi menyusul kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan global dari sejumlah sanksi ekonomi terhadap eksportir minyak mentah utama Rusia.

Mengutip Antara, Sabtu (26/2/2022), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April merosot US$1,15 atau 1,2 persen, menjadi menetap di US$97,93 per barel, setelah naik setinggi US$ 101,99. Kontrak Mei yang lebih aktif berkurang US$1,30 atau 1,4 persen, menjadi US494,12 per barel.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret terpangkas US$1,22 atau 1,3 persen, menjadi menetap di US$91,59 per barel, setelah mencapai tertinggi sesi di US$95,64.

Untuk minggu ini harga minyak Brent naik sekitar 4,7 persen, sementara minyak WTI berada di jalur untuk naik sekitar 0,6 persen.

Pada Kamis (24/2/2022) invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014, dengan harga minyak Brent menyentuh US$105, sebelum memangkas keuntungan pada penutupan perdagangan.

Serangan itu adalah serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II, mendorong puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka. Pada Jumat (25/2/2022) rudal Rusia menggempur Kyiv, keluarga-keluarga ketakutan di tempat penampungan dan pihak berwenang mengatakan kepada penduduk untuk menyiapkan bom Molotov untuk mempertahankan ibu kota Ukraina.

Pada Kamis (24/2/2022) Presiden AS Joe Biden menanggapi invasi dengan gelombang sanksi yang menghambat kemampuan Rusia untuk melakukan bisnis dalam mata uang utama, bersama dengan sanksi terhadap bank-bank dan perusahaan milik negara.

Inggris, Jepang, Kanada, Australia, dan Uni Eropa, juga meluncurkan sanksi, termasuk langkah Jerman untuk menghentikan sertifikasi pipa gas Rusia senilai US$11 miliar.

Namun aliran minyak dan gas Rusia tidak secara khusus ditargetkan oleh sanksi, kata seorang pejabat AS. Negara ini adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia dan penyedia gas alam utama ke Eropa.

"Sebanyak 2,3 juta barel per hari dari 4,6 juta barel per hari ekspor minyak mentah Rusia pergi ke Barat," kata analis Wood Mackenzie dalam sebuah catatan. "Kami melihat perlambatan dalam pembelian minyak mentah Rusia. Sampai persyaratan pembayaran diklarifikasi, pengetatan lebih lanjut dalam keseimbangan penawaran dan permintaan diperkirakan."

Biden mengatakan Amerika Serikat sedang bekerja dengan negara-negara lain dalam pelepasan gabungan minyak tambahan dari cadangan minyak mentah strategis mereka.

"Jelas pembicaraan tentang SPR (Cadangan Minyak Strategis) masih ada dan itu menjadi faktor negatif, tetapi ketidakpastian memasuki akhir pekan akan mendukung," kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, di Chicago.

Menurut data industri, China telah meningkatkan pembelian cadangan minyaknya tahun ini bahkan ketika harga minyak melonjak, meskipun ada seruan dari Washington untuk rilis cadangan terkoordinasi global untuk membantu mendinginkan pasar. 

Pembeli utama minyak Rusia sedang berjuang untuk mendapatkan jaminan di bank-bank Barat atau menemukan kapal, sumber mengatakan kepada Reuters.

Kesepakatan di antara produsen minyak OPEC+ tidak menunjukkan celah sejauh ini, dan kelompok itu kemungkinan akan tetap pada rencana kenaikan produksi 400.000 barel per hari pada April meskipun minyak mentah mencapai US$100 per barel.

Aliansi, yang mengelompokkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan produsen termasuk Rusia, akan bertemu pada Rabu (2/3/2022) untuk membuat keputusan.

Dalam indikasi pasokan AS di masa depan, jumlah rig pengeboran minyak naik 2 menjadi 522 dalam seminggu hingga 25 Februari, data dari perusahaan jasa minyak Baker Hughes menunjukkan pada Jumat (25/2/2022).

Para manajer uang memangkas posisi net long minyak mentah AS mereka dan posisi opsi dalam seminggu hingga 22 Februari sebesar 21.204 kontrak menjadi 274.132, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan pada Jumat (25/2/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak brent harga minyak mentah wti

Sumber : Antara

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top