Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rebalancing Indeks LQ45, ARTO dan EMTK Diprediksi Masuk

Saham ARTO dan EMTK diperkirakan masuk Indeks LQ45 karena sektor digital yang masih diminati investor.
Logo PT Elang Mahkota Teknologi Tbk dan sejumlah portofolio usahanya./emtek
Logo PT Elang Mahkota Teknologi Tbk dan sejumlah portofolio usahanya./emtek

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) berpotensi masuk Indeks LQ45 dalam waktu dekat.

BEI akan segera melakukan pembobotan ulang atau rebalancing saham indeks LQ45 untuk periode Februari hingga Juli 2022. Rebalancing adalah momentum pergantian anggota indeks dalam kurun waktu tertentu. Anggota akan masuk dan keluar sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan operator.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menjelaskan ada kemungkinan emiten sektor teknologi bakal mengisi indeks paling likuid di pasar modal itu.

“Untuk rebalancing saham - saham yang berpotensi masuk kemungkinan dari saham yang masih berkaitan erat dengan teknologi dan digital seperti EMTK dan ARTO,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Meski demikian, menurutnya investor asing masih akan memburu saham-saham konvensional. Alasan utama investor asing banyak masuk ke saham-saham tersebut karena memang kinerjanya yang impresif.

Terpantau saham-saham perbankan cukup menarik bagi investor asing, seperti BBCA dengan net foreign buy tertinggi dengan nilai Rp2,5 triliun. Lalu disusul BBRI dengan nilai Rp818 miliar, BBNI dengan Rp326 miliar dan BMRI dengan nilai Rp196 miliar.

“Pada sektor perbankan, pertumbuhan laba bersih cukup baik seperti BBCA dengan laba bersih Rp23 triliun pada kuartal III/2021. Jumlah itu mengalami kenaikan dibandingkan dengan laba bersih sebelum tahun lalu Rp20 triliun,” imbuhnya.

Selain itu juga ada TLKM dengan net foreign buy Rp690 miliar, karena lini bisnisnya masih sangat relevan terhadap situasi saat ini. Ada juga dari sektor energi seperti ADRO, UNTR, PGAS dan MDKA yang turut mengisi daftar 10 besar net foreign buy tertinggi di LQ45.

“Hal ini senada dengan perbankan lainnya seperti BBRI, BBNI dan BMRI. Untuk sektor energi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas dunia dari tahun lalu, juga dari sektor teknologi yang masih dalam tren yang sangat diminati sampai saat ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Frankie menilai untuk kinerja LQ45 sendiri berada di zona hijau karena di atas level 1,74 persen secara ytd. Kinerjanya berbanding tipis dengan IHSG yang naik 2,2 persen.

“Kemungkinan besar LQ45 masih berjalan mendatar walaupun dilakukannya rebalancing, karena memang pasar modal masih dibanyangi oleh kekhawatiran akan kebijakan The Fed menyikapi kenaikan inflasinya, juga soal covid-19 yang mulai naik di Indonesia,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper