Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Imbal hasil Obligasi Naik, Harga Emas Terkulai

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, jatuh 5,1 poin atau 0,28 persen ke US$1.805,80 per troy ounce.
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk./mind.id
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk./mind.id

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas berjangka tergelincir pada akhir perdagangan Rabu (29/12/2021), tertekan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya selera terhadap aset-aset berisiko.

Dilansir Antara, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, jatuh 5,1 poin atau 0,28 persen ke US$1.805,80 per troy ounce. Di pasar spot, harga emas diperdagangkan di US$1.804,56 per troy ounce.

Emas telah diperdagangkan dalam kisaran yang relatif ketat selama sebulan terakhir karena kekhawatiran tentang varian Omicron dari COVID-19 dan ketidakpastian seputar efektivitas kebijakan untuk memerangi inflasi, menurut analis pasar.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun 0,2 persen mendekati level terendah satu bulan, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Sebelumnya pada hari itu, harga emas turun hampir 1,0 persen ke level terendah satu minggu karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik ke level tertinggi sejak 29 November, sementara Wall Street memperpanjang kenaikannya.

Peter Mooses, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, mengatakan selera risiko saat ini diperkirakan sedikit lebih kuat sehingga menekan harga emas.

“Pelemahan mungkin tidak dalam jangka panjang dan hanya berlangsung selama beberapa hari di tengah ketidakpastian seputar kasus varian Omicron,” ungkap Peter, dilansir Antara, Kamis (30/12/2021).

Harga emas kemungkinan akan berada di sekitar 1.800 dolar AS untuk kuartal pertama tahun 2022, kata Mooses, dan kisaran harga yang lebih luas dapat dilihat jika berita seputar varian Omicron memburuk.

Jumlah rata-rata kasus virus corona yang dikonfirmasi setiap hari di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi 258.312 selama tujuh hari terakhir, penghitungan Reuters menunjukkan pada Rabu (29/12/2021).

"Dengan ruang bagi inflasi untuk melanjutkan kenaikan yang konsisten di belakang tekanan beli yang meriah dan hambatan rantai pasokan yang terbatas, emas spot dapat melihat pergerakan lebih tinggi sebelum kemiringan hawkish dari sebagian besar bank sentral utama membebani logam kuning secara negatif tahun depan," kata Analis DailyFX Warren Venketas.

Beberapa investor memandang emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi yang dapat mengikuti langkah-langkah stimulus, tetapi imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi menumpulkan beberapa daya tarik komoditas yang tidak memberikan imbal hasil.

Emas berada di jalur untuk penurunan tahunan terbesar sejak 2015, setelah turun hampir 5,0 persen sepanjang tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper