Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Melejit Cetak Rekor Baru, Inflasi AS Tertinggi Sejak 1982

S&P 500 yang melonjak hampir 1 persen mencerminkan rekor penutupan tertinggi. Sementara Indeks Harga Konsumen AS naik 6,8 persen pada November 2021 dibandingkan tahun lalu, menandai kenaikan tahunan tercepat sejak Juni 1982.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 11 Desember 2021  |  05:43 WIB
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham di Amerika Serikat menutup perdangan Jumat (10/12/2021) waktu setempat dengan mencetak rekor baru, sekalipun inflasi November 2021 Negeri Paman Sam ini mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, Sabtu (11/12/2021), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,60 persen atau 216,30 poin ke 35.970,99, S&P500 melejit 0,95 persen atau 44,57 poin ke 4.712,02, dan Nasdaq naik 0,73 persen atau 113,23 poin ke 15.630,60.

S&P 500 yang melonjak hampir 1 persen mencerminkan rekor penutupan tertinggi. Sementara Indeks Harga Konsumen AS naik 6,8 persen pada November 2021 dibandingkan tahun lalu, menandai kenaikan tahunan tercepat sejak Juni 1982. Tingkat ini sesuai dengan perkiraan ekonom konsensus, menurut data Bloomberg, tetapi dipercepat dibandingkan dengan tingkat tahun-ke-tahun (year-on-year/yoy) 6,2 persen dari bulan sebelumnya.

Level tersebt bahkahn tidak termasuk harga makanan dan energi yang lebih fluktuatif, Indeks Harga Konsumen inti naik 4,9 persen dibandingkan tahun lalu untuk peningkatan tercepat dalam sekitar tiga dekade

Apa yang kita cari adalah perlambatan saat kita melangkah maju selama 2022. Itu tidak berarti harga akan turun, itu hanya pertanyaan, apakah mereka akan naik banyak pada tahun 2022 seperti pada tahun 2021 tanpa jenis stimulus fiskal yang kita miliki tahun ini? Dan kita tidak berpikir bahwa itu akan terjadi, karena tidak akan banyak dorongan dari sisi permintaan," kata Luke Tilley, kepala ekonom Wilmington Trust kepada Yahoo Finance Live.

Kemudian di sisi penawaran, lanjutnya, pelaku pasar mencari sentimen pasar tenaga kerja, lantraran lebih banyak orang kembali bekerja.

Data terbaru lainnya semakin menggarisbawahi pengetatan saat ini di sisi penawaran ekonomi. Klaim pengangguran mingguan AS jatuh lebih dari yang diharapkan untuk mencapai level terendah sejak 1969 pekan lalu, bahkan di bawah level pra-pandemi. Dan lowongan pekerjaan A.S. tercatat lebih dari 11 juta, hanya untuk kedua kalinya dalam catatan pada Oktober.

"Kenaikan upah mungkin menjadi agenda untuk tahun depan. Itu bagian dari perluasan tekanan inflasi yang sudah mulai kita lihat datang melalui beberapa data CPI itu," Seema Shah, kepala strategi Principal Global Investors.

Mengingat latar belakang inflasi yang meningkat, pejabat Federal Reserve telah mengadopsi retorika yang lebih hawkish tentang jalur kebijakan moneter ke depan.

Beberapa pakar menyarankan lebih banyak rotasi dapat terjadi di pasar saham AS karena investor memperkirakan ekspektasi kebijakan Fed yang lebih ketat untuk mengendalikan inflasi. Komite Pasar Terbuka Federal dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan penetapan kebijakan moneter dua hari terakhir tahun ini pada pekan depan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top