Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kabar Soal Omicron dan Cadangan AS Kerek Harga Minyak Mentah

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,31 poin atau 0,4 persen ke US$72,36 per barel, menyusul meredanya kekhawatiran soal varian omicron dan penurunan persediaan minyak AS.
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia/Bloomberg-Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia/Bloomberg-Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat tipis pada akhir perdagangan Rabu (8/12/2021), menyusul redanya kekhawatiran terhadap varian virus corona Omicron dan data yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari ditutup menguat 0,38 poin atau 0,5 persen ke level US$75,82 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari juga menguat 0,31 poin atau 0,4 persen ke US$72,36 per barel.

Patokan global Brent rebound sekitar 10 persen sejak 1 Desember dengan ekspektasi bahwa Omicron hanya akan berdampak terbatas pada permintaan minyak, setelah jatuh 16 persen sejak 25 November.

Studi awal menunjukkan dua suntikan Pfizer-BioNTech hanya melindungi sebagian dari Omicron, tetapi dosis ketiga dapat meningkatkan perlindungan terhadap varian baru tersebut.

"Beberapa kekhawatiran permintaan minyak terkait Omicron mungkin terlalu pesimistis, dan karenanya dengan beberapa berita positif terkait dengan Omicron yang dirilis dalam beberapa hari terakhir, harga minyak pulih," kata analis komoditas di UBS Giovanni Staunovo, seperti dilansir Antara, Kamis (9/12/2021).

Reaksi pasar cenderung minim terhadap angka persediaan mingguan AS. Stok minyak mentah turun 240.000 barel dan stok bensin dan sulingan meningkat karena penyulingan meningkatkan produksi.

Namun, pada saat yang sama, produk AS yang dipasok oleh kilang, yang mewakili permintaan, mencapai 20,9 juta barel per hari selama empat minggu terakhir - melebihi tingkat penggunaan konsumen sebelum pandemi.

Pasar memperkirakan bahwa pasokan akan melebihi permintaan pada awal 2022, karena meningkatnya produksi AS dan penambahan pasokan yang berkelanjutan dari Timur Tengah.

Pada akhirnya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, memilih mempertahankan jadwalnya untuk meningkatkan pasokan sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan, meskipun ada kekhawatiran bahwa varian baru akan melemahkan permintaan.

Gedung Putih dan Teheran telah memulai kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran, tetapi kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 yang membatasi pengembangan nuklir Iran masih jauh, dan para pejabat Barat telah menyuarakan kekecewaan atas tuntutan Iran yang meluas.

Ketegangan antara kekuatan Barat dan Rusia atas Ukraina juga tetap tinggi setelah Presiden AS Joe Biden memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (7/12/2021) bahwa Barat akan memberlakukan "tindakan ekonomi dan lainnya yang kuat" pada Rusia jika menyerang Ukraina, sementara Putin menuntut jaminan bahwa NATO tidak akan melakukan perluasan lebih jauh ke arah timur.

"Semua titik panas ini memberi tahu pasar bahwa kami telah menambahkan risiko dan ketika kami melakukannya, harga-harga bergerak naik," kata Tim Snyder, ekonom di Matador Economics di Dallas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper