Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks Syariah JII Masih Tertekan, Saham Konsumer dan Konstruksi Jadi Biang Kerok

JII masih menjadi salah satu indeks dengan koreksi terdalam sepanjang tahun ini, yakni sebesar 10,42 persen secara year to date (ytd).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  15:32 WIB
Indeks Syariah JII Masih Tertekan, Saham Konsumer dan Konstruksi Jadi Biang Kerok
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi pada indeks syariah Jakarta Islamic Index (JII) disebabkan oleh tertekannya kinerja emiten pada sektor konsumer dan konstruksi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), JII terpantau naik 0,05 persen pada level 564,73 pada perdagangan Kamis (9/12/2021). Meski demikian, secara year to date (ytd), JII masih menjadi salah satu indeks dengan koreksi terdalam, yakni sebesar 10,42 persen.

Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menjelaskan komposisi konstituen menjadi salah satu penyebab koreksi indeks JII. Ia menjelaskan, kehadiran emiten dari sektor konsumer seperti UNVR dan konstruksi seperti WIKA dan PTPP menekan kinerja indeks ini.

Tertekannya emiten konsumer salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga komoditas yang turut berimbas pada harga jual barang yang lebih mahal. Di sisi lain, emiten terlihat belum membebankan kenaikan harga ini ke konsumer demi mempertahankan pangsa pasar.

“Untuk konstruksi memang harus melakukan restrukturisasi neraca agar pengeluarannya tidak membebani perseroan,” jelasnya saat dihubungi pada Kamis (9/12/2021).

Ke depannya, Janson mengatakan potensi penguatan JII masih cukup terbuka. Hal ini seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terhadap varian omicron virus corona yang dapat diatasi dengan vaksin booster yang disiapkan.

Ia menjelaskan, menurunnya potensi penyebaran varian omicron dapat menjadi motor penguatan ekonomi. Dengan demikian, keyakinan dan daya beli konsumen juga akan turut meningkat.

“Kenaikan harga komoditas bisa mendongkrak daya beli masyarakat walau perusahaan consumer goods yang akan menjadi korban,” tambahnya.

Janson menambahkan, indeks JII masih berpotensi menyentuh kisaran 590 hingga akhir tahun ini.

Seiring dengan hal tersebut, Janson mengatakan sejumlah emiten konstituen JII masih cukup menarik dikoleksi. Beberapa saham yang masih layak dicermati investor adalah TLKM, PTBA, INCO, ANTM, serta INTP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia Indeks BEI Jakarta Islamic Index Indeks Syariah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top