Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emas Merangkak Naik di Tengah Lesunya Dolar AS

Emas mendarat di kisaran US$1.780-1.800 per ounce, menunggu isyarat dari Federal Reserve AS dan data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  06:25 WIB
Ilustrasi emas batangan -  Bloomberg
Ilustrasi emas batangan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas menguat tipis pada akhir perdagangan Kamis pagi di Asia, karena pelemahan dolar mengimbangi imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih kuat. Sementara itu, investor tengah menyesuaikan posisi investasi mereka menjelang rilis data harga konsumen AS akhir pekan ini.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di Comex New York Exchange naik US$0,8 atau 0,04 persen, ditutup pada US$1,785,50 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (7/12/2021), emas berjangka terkerek US$5,2 atau 0,29 persen menjadi US$1.784,70.

Emas berjangka merosot US$4,4 atau 0,25 persen menjadi US$1.779,50 pada Senin (6/12/2021), setelah melonjak US$21,20 atau 1,2 persen menjadi US$1.783,90 pada Jumat (3/12/2021), dan anjlok US$21,60 atau 1,2 persen menjadi US$1.762,70 pada Kamis (2/12/2021).

"Satu-satunya tekanan yang diperoleh emas adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, tetapi kenaikan imbal hasil cukup terbatas," kata Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang dijadikan acuan menguat, meredupkan daya tarik emas. Di sisi lain, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Namun, kenaikan emas dibatasi karena Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa pengusaha AS mencatat 11 juta pekerjaan terbuka pada Oktober, hampir menyamai rekor tertinggi yang dicapai pada Juli dan tanda bahwa perusahaan-perusahaan cukup percaya perekonomian akan berkembang.

Emas mendarat di kisaran US$1.780-1.800 per ounce, menunggu isyarat dari Federal Reserve AS dan data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS, Streible menambahkan.

Laporan IHK yang akan dirilis pada Jumat (10/12/2021) dapat mempengaruhi garis waktu Fed mengurangi dukungan ekonominya sebelum pertemuan kebijakan berikutnya pada 14-15 Desember.

Ricardo Evangelista, Analis Senior di ActivTrades, mengatakan narasi bergesernya kebijakan bank sentral menjadi ketat kemungkinan akan mendorong dolar AS sehingga setiap kenaikan emas kemungkinan akan terbatas.

Pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga cenderung mendorong imbal hasil obligasi pemerintah lebih tinggi, meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak dikenakan bunga.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 9,1 sen atau 0,4 persen dan ditutup pada US$22,432 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik US$5,9 atau 0,62 persen dan ditutup pada US$955,9 per ounce.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas emas batangan

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top