Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Ditutup Tersungkur, Investor Asing Incar TBIG dan TLKM

Sebanyak 177 saham hijau, 349 saham merah dan 142 saham stagnan pada akhir perdagangan hari ini.
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,68 persen atau 45,51 poin ke 6.677,87 pada akhir perdagangan Selasa (23/11/2021).

Sepanjang hari, IHSG bergerak dalam kisaran 6.662,53-6.732,89. Sebanyak 177 saham hijau, 349 saham merah dan 142 saham diperdagang stagnan.

Investor asing tercatat membukukan aksi beli bersih di seluruh pasar Rp92,75 miliar pada hari ini. Saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) diborong paling banyak oleh investor asing senilai Rp62,6 miliar, disusul saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) yang dibeli Rp61,8 miliar dan saham PT Astra International Tbk. (ASII) yang dibeli Rp52,7 miliar.

Di sisi lain, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) menjadi yang paling banyak dijual asing Rp144,2 miliar, diikuti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) yang diobral Rp132,1 miliar.

Saat IHSG melemah, saham PT Karya Bersama Anugera Tbk. (KBAG) justru menjulang 22,09 persen menjadi Rp105. Selanjutnya saham PT Tanah Laut Tbk. (INDX) naik 20,18 persen menjadi Rp131.

Saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) tak ketinggalan dengan penguatan 10,14 persen menjadi Rp1.140.

Sebelumnya, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, berdasarkan analisa teknikal, IHSG berpeluang bergerak melemah terbatas dan diperdagangkan di level 6.676-6.790.

Saham yang menjadi rekomendasi Pilarmas Investindo Sekuritas hari ini adalah MNCN dan AGRO.

Lebih lanjut, Nico mengatakan sentimen datang dari AS dengan terpilihnya Jerome Powell sebagai ketua The Federal Reserve (The Fed) untuk kali kedua.

"Alasannya sederhana, karena perekonomian Amerika terus pulih sejak pandemi dan pemerintah terus bergerak untuk melawan kenaikkan inflasi," tulis Nico dalam risetnya, Selasa (23/11/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper