Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Parkir Dana di RD Pasar Uang saat Era Suku Bunga Rendah

Sepanjang 2021, kinerja reksa dana pasar uang tumbuh sebesar 2,84 persen yang berada di bawah risk free rate yaitu 2,92 persen.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 22 November 2021  |  15:04 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – PT Infovesta Utama memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga rendah hingga 2022 mendatang. Oleh sebab itu, instrumen reksa dana pasar uang masih menjadi pilihan menarik bagi investor sebagai investasi jangka pendek.

Berdasarkan laporan mingguan Infovesta, Senin (22/11/2021), di berbagai belahan dunia atau secara global saat ini tengah menghadapi era suku bunga rendah. Misalnya Amerika Serikat dengan suku bunga 0,25 persen, Uni Eropa 0,00 persen, Inggris 0,1 persen, Australia 0,1 persen.

Sama halnya dengan kawasan Asia yaitu Singapura dengan suku bunga 0,07 persen, India 4 persen, China 3,85 persen, Filipina 2 persen, Malaysia 1,75 persen, dan Indonesia 3,5 persen.

Menurut Infovesta, dengan perekonomian global yang mulai berangsur pulih, sejumlah negara bersiap menata kembali arah kebijakan moneternya.

“Dinamika kebijakan moneter bank sentral di sejumlah negara cenderung bervariasi dari mempertahankan hingga menaikkan suku bunga. Uni Eropa, Australia, India dan Jepang misalnya yang cenderung mempertahankan suku bunga rendah,” tulis Infovesta dalam laporan mingguan, Senin (22/11/2021).

Di sisi lain lanjut Infovesta, Inggris menyinyalir untuk menaikkan suku bunga pada akhir 2021 sebagai langkah menghadapi inflasi dan biaya listrik yang tinggi.

Selanjutnya di Amerika, Federal Reserve mengatakan belum akan menaikkan suku bunga hingga pasar tenaga kerja semakin pulih meski tapering diperkirakan berakhir pada semester pertama 2022.

Namun tetap ada kemungkinan percepatan kenaikan suku bunga oleh The Fed, jika inflasi terus mengalami lonjakan.

Sementara di Tanah Air, sejak Februari 2021 hingga saat ini, suku bunga acuan BI7DRR dipertahankan stabil di level 3,5 persen atau terendah sepanjang sejarah sebagai bentuk kebijakan moneter bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dalam negeri, imbas dari resesi ekonomi yang sebelumnya terjadi.

Bersamaan dengan itu, Infovesta menjelaskan likuiditas melimpah pada perbankan mendorong Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menurunkan suku bunga penjaminan menjadi 3,5 persen mulai dari September 2021 hingga Januari 2022 mendatang.

“Kami memandang bank sentral [BI] masih akan mempertahankan suku bunga rendahnya setidaknya hingga 2022 sambil memantau pergerakan tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” ungkap Infovesta.

Berkaitan dengan itu, Infovesta menyebutkan bahwa instrumen reksa dana pasar uang dinilai aman bagi investor untuk investasi jangka pendeknya.

Sepanjang 2021, kinerja reksa dana pasar uang tumbuh sebesar 2,84 persen yang berada di bawah risk free rate yaitu 2,92 persen. Lalu jumlah dana kelolaan dan unit penyertaannya sepanjang tahun (year to date/ ytd) mengalami kenaikan masing-masing sebesar 15,64 persen dan 11,32 persen.

Infovesta menyebutkan, baik secara kinerja maupun dana kelolaan dan unit penyertaan pada instrumen pasar uang masih tercatat positif, maka instrumen ini cocok digunakan sebagai medium investasi jangka pendek mengingat instrumen ini memang kerap digunakan sebagai wadah untuk memarkir dana.

“Dengan kinerjanya yang masih positif dan sifat instrumennya yang minim risiko, reksa dana pasar uang dinilai aman dalam menempatkan investasi dalam jangka waktu pendek atau kurang dari satu tahun,” tutup Infovesta.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana infovesta utama investasi reksa dana
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top