Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CEO Indika Energy (INDY) Beberkan Rencana Proyek DME

PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan Air Products Chemical Inc. terus mematangkan rencana proyek pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 15 November 2021  |  16:39 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Ketua Kadin Indonesia Arsyad Rasjid, CEO PT Indika Energy Tbk. Azis Armand, bersama sejumlah stakholder lainnya mengunjungi London Stock Exchange, Jumat (29/10/2021).  - twitter Anindya Bakie.
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Ketua Kadin Indonesia Arsyad Rasjid, CEO PT Indika Energy Tbk. Azis Armand, bersama sejumlah stakholder lainnya mengunjungi London Stock Exchange, Jumat (29/10/2021). - twitter Anindya Bakie.

Bisnis.com, JAKARTA – Menindaklanjuti kesepakatan investasi pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dengan Air Products Chemical Inc. pada awal November lalu, PT Indika Energy Tbk. (INDY) menyiapkan sejumlah strategi.

CEO Indika Energy Aziz Armand menyebutkan, untuk proyek DME akan paling banyak menelan biaya dari sektor fasilitasnya, yang kemudian tercermin ke dalam processing fee-nya. Rencananya, proyek DME dibangun dekat tambang anak usaha INDY sebagai pemasok batu bara, yakni PT Kideco Jaya Agung.

“Nanti prosesnya akan di tambang Kideco. Biaya logistik paling besarnya adalah ketika kita melakukan kegiatan penambangan. Kemudian, dibawa dari tambang ke fasilitas. Tentu saja akan paling efisien kalau dilakukan di tambang Kideco dari sisi logistic cost,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (15/11/2021.

Kemudian setelah ada hasilnya, DME akan dikirim ke pelabuhan dan dibawa kepada end user, atau ditampung sebagai cadangan.

Ke depan, Aziz menambahkan, jika membutuhkan jenis batu bara lain yang tidak tersedia di Kideco, masih dipelajari lebih lanjut oleh INDY.

“Untuk skala keekonomiannya jika membutuhkan batu bara yang lain, contohnya dari tambang lainnya di mana di daerah Kalimantan Timur. Di mana fasilitas tersebut akan dibangun? Hal ini akan menjadi bahan studi supaya mana yang paling masuk hitungannya,” tambahnya.

Adapun, saat ini pihak Indika Energy masih terus berkoordinasi dengan Air Products perihal pengembangan proyek DME tersebut, yang diharapkan dapat mengurangi impor gas alam.

"INDY kontakan terus dengan pihak Air Products, saat ini lebih banyak koordinasi secara online untuk mematangkan teknis, investasi, dan sebagainya," imbuh Azis.

Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Air Products and Chemicals, Inc. (APCI) di Dubai.

Investasi megaproyek senilai US$15 miliar atau setara Rp210 triliun tersebut dilakukan dalam bidang industri gasifikasi batu bara dan turunannya, berupa pendirian fasilitas gasifikasi untuk konservasi batu bara bernilai rendah menjadi produk kimia bernilai tambah tinggi seperti methanol, Dimethyl Ether (DME), dan bahan kimia lainnya.

Sebagai langkah konkret dari nota kesepahaman dengan Kementerian Investasi/BKPM, Air Products juga langsung menandatangani Nota Kesepahaman dengan BUMN dan perusahaan nasional, salah satunya adalah proyek batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) antara PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan APCI.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indika energy batu bara gasifikasi batu bara
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top