Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Hold Saham HMSP, GGRM dan WIIM Sekalipun Pendapatan Naik

Kenaikan harga rokok bisa terjadi karena kenaikan beban akan dikompensasikan ke harga jual rokok.
Pekerja melinting rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), Megawon, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (11/12/2020). Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan kebijakan tarif cukai hasil tembakau atau cukai rokok tahun 2021 naik rata-rata 12,5 persen. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Pekerja melinting rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), Megawon, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (11/12/2020). Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan kebijakan tarif cukai hasil tembakau atau cukai rokok tahun 2021 naik rata-rata 12,5 persen. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten-emiten rokok telah mengumumkan kinerja kuartal III/2021 dengan penjualan yang tercatat bertumbuh secara tahunan. 

Emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) misalnya, mencatatkan penjualan bersih senilai Rp72,5 triliun hingga akhir September 2021. Penjualan ini naik 6,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp67,7 triliun.

Lalu, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) membukukan pendapatan Rp92 triliun hingga akhir September 2021, naik 10,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp83,3 triliun.

Kemudian PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) membukukan penjualan Rp1,9 triliun di kuartal III/2021, meningkat 37,19 persen dibandingkan kuartal III/2020 sebesar Rp1,39 triliun.

Akan tetapi, laba bersih dua emiten rokok, yakni HMSP dan GGRM tercatat turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, masing-masing 19,6 persen dan 26,7 persen. Sementara, laba bersih WIIM naik tipis 0,12 persen.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan, turunnya laba bersih emiten-emiten rokok ini diakibatkan meningkatnya beban pokok penjualan masing-masing emiten.

"Terutama dengan alokasi beban untuk pembayaran tarif cukai. Beban ini memiliki kontribusi besar terhadap total beban perusahaan selain dari beban biaya SDM," kata Reza dihubungi Bisnis pada Rabu (3/11/2021).

Reza cenderung merekomendasikan investor untuk hold saham-saham emiten rokok ini. Menurutnya, investor bisa melihat perkembangan kinerja dari emiten-emiten rokok.

Dia menilai, penerapan tarif cukai berpotensi menghalangi pertumbuhan kinerja emiten rokok. Dia juga melihat, kenaikan harga rokok bisa terjadi karena kenaikan beban akan dikompensasikan ke harga jual rokok.

"Kecuali, mereka ada pengembangan lain, semisal anorganik yang dapat mengimbangi beban tarif cukai tersebut," tuturnya.

Ke depan, Reza menuturkan investor bisa melihat kembali di masyarakat, apakah tren konsumsi rokok meningkat atau stagnan, atau malah turun dengan semakin sadarnya masyarakat akan kesehatan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Annisa Saumi
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper