Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Lanjut Menguat Berkat Inflasi AS yang Memanas

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak 0,18 persen pada akhir pedagangan Kamis (14/10/2021) waktu setempat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 15 Oktober 2021  |  06:20 WIB
Aneka emas batangan beragam ukuran dan bentuk. Harga emas dunia mendekati level US2.000 per troy ounce dan diperkirakan akan terus menguat seiring dengan pelemahan dolar AS. - Bloomberg
Aneka emas batangan beragam ukuran dan bentuk. Harga emas dunia mendekati level US2.000 per troy ounce dan diperkirakan akan terus menguat seiring dengan pelemahan dolar AS. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas kembali menguat menyentuh level tertinggi satu bulan pada akhir perdagangan Kamis (14/10/2021) waktu Amerika Serikat (AS), membukukan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut.

Kenaikan harga emas lantaran penurunan dolar dan imbal hasil obligasi AS yang memungkinkan investor beralih ke emas sebagai lindung nilai inflasi.

Mengutip Antara, Jumat (15/10/2021), Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak US$3,2 atau 0,18 persen, menjadi ditutup pada US$1.797,90 per ounce. Sehari sebelumnya, Rabu (13/10/2021), emas berjangka melonjak US$35,4 atau 2,01 persen menjadi US$1.794,70.

Emas berjangka juga terangkat US$3,6 atau 0,21 persen menjadi US$1.759,30 pada Selasa (12/10/2021), setelah terpangkas US$1,7 atau 0,1 persen menjadi US$1.755,70 pada Senin (11/10/2021), dan melemah US$1,8 atau 0,1 persen menjadi US$1.757,40 pada Jumat (8/10/2021).

Emas juga tampaknya sebagian besar mengabaikan data tenaga kerja mingguan AS yang lebih baik.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (14/10/2021) bahwa klaim pengangguran awal AS turun 36.000 menjadi 293.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 9 Oktober, level terendah sejak pertengahan Maret 2020. Angka tersebut agak membatasi pertumbuhan emas.

"Pedagang dan investor akhirnya menyadari bahwa kenaikan inflasi, secara historis, bullish untuk logam, tidak peduli apa yang dilakukan Federal Reserve," kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.

Dia menambahkan, volatilitas lebih lanjut dalam ekuitas bulan ini juga dapat memicu beberapa permintaan safe-haven untuk emas.

Sentimen pasar yang lebih luas tetap rapuh, karena krisis energi global memicu kekhawatiran bahwa lonjakan harga-harga yang dihasilkan dapat memperlambat pertumbuhan.

Harga produsen China mencatat rekor kenaikan tahunan bulan lalu dan harga konsumen AS juga meningkat. Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik, meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

"Tetapi sekarang kami memiliki sedikit visibilitas tentang apa yang ingin dilakukan The Fed dalam hal tapering, dan itu adalah jumlah yang relatif kecil; itu positif untuk emas,” kata analis independen Ross Norman. Dia menambahkan emas menghadapi resistensi teknis di sekitar US$1.800 dan US$1.835.

Risalah Fed terbaru menunjukkan bank sentral bisa mulai melakukan pengurangan pembelian asetnya pada pertengahan November.

TD Securities mengatakan dalam sebuah catatan bahwa sementara fokus kuat pada perkiraan keluarnya Fed telah mengabaikan meningkatnya risiko stagflasi. Hal itu belum diterjemahkan ke dalam permintaan emas tambahan.

Namun, ketika krisis energi meningkat, alasan untuk memiliki emas semakin menarik.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 30,7 sen atau 1,32 persen, menjadi ditutup pada US$23,477 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik US$28,10 atau 2,74 persen menjadi ditutup pada US$1,052,30 per ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini logam mulia harga emas comex

Sumber : Antara

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top