Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga CPO Memanas, Emiten Perkebunan Ikut Tancap Gas

Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah juga turut mengerek naik sejumlah emiten perkebunan sawit.
Kebun Sawit. /Sinar Mas Agribusiness
Kebun Sawit. /Sinar Mas Agribusiness

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) turut berimbas pada performa positif emiten-emiten perkebunan pada Rabu (6/10/2021).

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Rabu (6/10/2021), harga CPO untuk kontrak Desember 2021 sempat mencapai harga tertinggi pada 4.879 ringgit per ton sebelum tiba di harga setelmen 4.738 ringgit per ton.

Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan Januari 2022 terpantau naik 130 poin ke 4.646 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 4.780 ringgit per ton.

Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah juga turut mengerek naik sejumlah emiten perkebunan sawit. Hingga pukul 10.15 WIB, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 14,01 persen ke level 895. Menyusul dibelakangnya adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan kenaikan 13,45 persen ke level 675.

Selanjutnya, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) turut menguat sebesar 7,14 persen ke posisi harga 105 per saham. Pada posisi keempat, PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) turut menikmati kenaikan 6,57 persen ke 1460.

Kemudian, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) bergerak naik 4,77 persen disusul oleh PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) dengan kenaikan 3,38 persen. Selanjutnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Provident Agro Tbk (PALM) masing-masing naik 3,03 persen dan 1,96 persen.

Kepala Riset CGS-CIMB Securities Ivy Ng Lee Fang mengatakan bahwa rata-rata harga CPO naik secara year-on-year di tengah kekhawatiran akan adanya pengetatan pasokan, sementara ekspor CPO diprediksi tetap menguat pada Oktober ini menjelang perayaan Diwali di India.

“Kami memproyeksikan harga CPO tetap kuat di kisaran 3.500 – 4.500 per ton pada Oktober 2021. Kami tetap pada perkiraan rata-rata harga CPO kami di kisaran 3.700 ringgit, 2.900 ringgit, dan 2.800 ringgit per ton for 2021, 2022 and 2023 masing-masing," ujarnya, dilansir The Edge Markets, Rabu (6/10/2021).

Sementara itu, Ng mengatakan, pasokan CPO Malaysia akan turun setidaknya 2,5 persen secara bulanan pada September di tengah tingginya volume ekspor.

“Lami memperkirakan ekspor CPO akan tmbuh 39 persen per bulan dan 0,3 persen secara tahunan [yoy] pada September 2021 ke 1,62 juta ton, dan bisa tambah besar karena adanya peningkatan ekspor ke India, China, dan Uni Eropa,” jelasnya.

Perkiraan Ng untuk volume ekspor sebanyak 11,62 juta ton pada September 2021 ini lebih tinggi dari rata-rata historis selama 10 tahun yang hanya mencapai 1,56 juta ton untuk September.

“Kami memperkirakan akan adanya peningkatan tajam pada ekspor CPO Malaysia karena adanya pembatasan dan pergeseran impor CPO ke India yang sebelumnya dari Indonesia, menjadi dari Malaysia,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper