Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Lanjutkan Pelemahan, Rupiah Dibuka Perkasa

Mata uang Garuda melaju ke zona positif sementara mata uang Asia lainnya cenderung bervariasi di hadapan dolar AS.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 16 September 2021  |  09:29 WIB
Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada penutupan perdagangan Kamis (16/9/2021), terangkat oleh kenaikan inflasi AS yang tidak sesuai harapan sehingga menambah ketidakpastian The Fed melakukan pengurangan aset, yang menekan indeks dolar.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.10 WIB, mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,12 persen ke Rp14.225 di hadapan dolar AS. Sementara indeks dolar AS melanjutkan pelemahan 0,080 poin atau 0,09 persen ke 92,468.

Hingga 09.20 WIB, mata uang Asia lain terpantau bervariasi. Yen Jepang naik 0,09 persen, won Korea Selatan menguat 0,08 persen, yuan China melemah 0,01 persen, ringgit Malaysia naik 0,12 persen, dan bath Thailand turun 0,07 persen. 

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, Data AS menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti (CPI) tumbuh 4 persen year-on-year (yoy) dan 0,1 persen dari bulan sebelumnya pada Agustus.

“Kenaikan bulanan ini merupakan kenaikan terkecil dalam enam bulan, menunjukkan bahwa inflasi bisa mencapai puncaknya. Namun, itu bisa tetap tinggi untuk sementara waktu di tengah kendala pasokan yang terus-menerus. Data juga menunjukkan bahwa CPI masing-masing tumbuh 5,3 persen tahun ke tahun dan 0,3 persen bulan ke bulan,” ungkap Ibrahim dalam riset harian, dikutip Kamis (16/9/2021).

Dengan data yang lebih lemah dari perkiraan menimbulkan keraguan pada garis waktu Federal Reserve AS untuk memulai pengurangan aset, investor sekarang menunggu keputusan kebijakan bank sentral, yang akan terbit pekam depan.

Sementara itu, di Indonesia Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 kembali mengalami surplus, yang terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibanding impor.

BPS mencatat neraca dagang dalam negeri mengalami surplus US$4,74 miliar secara bulanan pada Agustus 2021. Realisasi itu lebih tinggi dari surplus US$2,59 miliar pada Juli 2021 dan surplus US$2,33 miliar pada Agustus 2021. Secara total, akumulasi surplus neraca dagang Indonesia mencapai US$19,17 miliar pada Januari-Agustus 2021.

Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$21,42 miliar pada Agustus 2021 atau naik 20,95 persen dari US$17,71 miliar pada Juli 2021. Sementara secara tahunan, nilainya melesat 64,1 persen dari US$13,06 miliar pada bulan Agustus 2020.

Sedangkan nilai impor mencapai US$16,68 miliar. Nilainya naik 10,35 persen dari US$15,11 miliar pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, nilai impor Indonesia meroket 55,26 persen dari US$10,74 miliar pada Agustus 2020.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2021 sebesar US$ 415,7 miliar atau setara dengan Rp5.902 triliun (asumsi kurs Rp14.200) tumbuh 1,7 persen dari tahun sebelumnya (yoy), dan tumbuh 2 persen dari bulan sebelumnya.

Pada hari ini, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup menguat tipis di rentang Rp14.230 - Rp14.270.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top